Pemerataan Internet di Indonesia Dekatkan Perantau dengan Keluarga di Kampung

Penulis: Saiful  •  Senin, 26 Oktober 2026 | 14:33:02 WIB
Mahasiswa merantau memanfaatkan jaringan internet untuk berkomunikasi dengan keluarga di kampung halaman.

MALUKU — Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat 98,96 persen populasi Indonesia sudah ter-cover jaringan 4G per kuartal pertama 2026. Pemerataan konektivitas itu membuat perantau di kota besar bisa rutin berkabar dengan keluarga di kampung lewat pesan, telepon, hingga video call. Bagi mahasiswa dan pekerja rantau, dampaknya terasa langsung pada kualitas hubungan dengan orang tua dan saudara.

Data Komdigi menunjukkan cakupan jaringan 5G baru menyentuh 26,83 persen luas permukiman, jauh di bawah jangkauan 4G yang hampir merata. Kesenjangan itu paling terasa di wilayah perbukitan dan desa terpencil, tempat sinyal masih sering hilang begitu pengguna keluar dari pusat kota.

Cerita Perantau yang Merasakan Dampaknya

Hedwiga Teofania Palentek, mahasiswa Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga, merasakan langsung naik-turunnya kualitas koneksi itu. Keluarganya tersebar di Balikpapan dan Toraja, Sulawesi Selatan.

Kerabatnya di Toraja tinggal di kawasan perbukitan desa yang sulit sinyal. Sementara keluarga di Balikpapan kerap berada di lokasi dengan konektivitas terbatas.

"Internet biasanya banyak saya gunakan untuk menghubungi keluarga yang ada di Balikpapan dan Sulawesi Selatan, hanya sekedar berbicara lewat telepon saja ternyata bisa menjaga stabilitas hubungan saya dengan keluarga," kata Hedwiga kepada detikINET.

Aplikasi pesan jadi kanal utama baginya berbagi kabar dan foto. Pola serupa muncul di kalangan mahasiswa rantau lain yang mengandalkan chat ketimbang panggilan suara.

Koneksi Stabil Jadi Kebutuhan Harian

Radya Chairunnisa Dewi, mahasiswa Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung, merantau dari Cirebon. Koneksi tidak stabil sempat menyulitkan komunikasi dengan kampung halaman, sebelum akhirnya teratasi.

"Adanya internet membantu saya berkomunikasi dengan keluarga di Cirebon dengan menyediakan media untuk mengirim pesan dengan cepat serta teleponan untuk berkabar ke keluarga dari sewaktu-waktu," kata Radya.

Bagi Josua Erlangga, perantau asal Medan yang kini kuliah pascasarjana dan bekerja di Jakarta, pemerataan konektivitas membuka pilihan fitur yang lebih luas. Ia memakai media sosial dan video call untuk mengabari aktivitas hariannya.

"Dengan adanya sosial media kita dapat mendekatkan orang yang jauh. Dengan adanya berbagai fitur, seperti saling berkirim pesan, mengobrol dari telepon, hingga dapat melalukan video call dengan keluarga yang ada di Medan," kata Josua.

Peta Cakupan Jaringan Terkini

Komdigi menghitung coverage prediction kuartal pertama 2026 dari total populasi 270.051.626 jiwa. Angka 98,96 persen populasi ter-cover 4G menjadi modal utama pemerataan layanan, meski kualitas di lapangan belum tentu seragam.

Pemerintah kini mengarahkan perhatian ke wilayah dengan keterbatasan konektivitas sambil menjaga kualitas layanan yang sudah berjalan. Fokusnya bukan lagi sekadar menambah menara, tetapi memastikan sinyal benar-benar sampai ke permukiman terpencil.

Target Nol Blank Spot

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi Wayan Toni Supriyanto menegaskan pemerintah mengejar cakupan hingga pelosok. Pernyataan itu disampaikannya di Jakarta, Sabtu (12/9).

"Kita selalu berusaha untuk bagaimana meningkatkan konektivitas digital kita ini. Sampai ke pelosok wilayah Indonesia tidak ada yang tidak kena, blankspot lagi," kata Wayan.

Bagi pelaku bisnis digital, perluasan cakupan ini membuka pasar baru di daerah yang sebelumnya sulit dijangkau layanan berbasis internet. Adopsi e-commerce, dompet digital, dan layanan pendidikan daring berpeluang tumbuh mengikuti masuknya sinyal.

Tantangan berikutnya ada pada kualitas, bukan hanya jangkauan. Pengguna di kota besar sudah menuntut koneksi stabil untuk video call dan kerja jarak jauh, sementara warga di perbukitan masih berjuang mendapat sinyal dasar untuk sekadar mengirim pesan.

Reporter: Saiful
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top