MALUKU — Lucy Guo, pendiri Scale AI, mengumpulkan kekayaan sekitar USD 1,5 miliar atau setara Rp 26 triliun dari bisnis pelabelan data untuk model kecerdasan artifisial. Perempuan 31 tahun itu kini menjalankan Passes, platform kreator yang ia dirikan pada 2022 dan mempekerjakan sekitar 50 staf. Kekayaannya menjadi sorotan karena berasal dari perusahaan yang ia bangun di usia 21 tahun.
Scale AI berdiri pada 2016 ketika Lucy Guo masih berusia 21 tahun. Ia mendirikan perusahaan pelabelan data itu bersama Alexandr Wang, yang kini menjabat sebagai bos AI di Meta. Dua tahun kemudian Lucy meninggalkan Scale AI dengan perkiraan 5% kepemilikan saham yang menjadi sumber utama hartanya.
Data pelatihan berkualitas tinggi menjadi fondasi bisnis Scale AI. Lucy menjelaskan perusahaan AI menyiapkan dana besar untuk membeli data pelatihan karena kualitas model bergantung pada data yang diberikan. Ia memberi contoh sederhana: jika data menyebutkan langit berwarna merah, model AI tidak tahu bahwa itu keliru.
Orang tua Lucy, imigran China yang bekerja sebagai insinyur, punya rencana lain untuknya. Mereka ingin Lucy menjadi apoteker agar bisa bekerja tiga hari seminggu dan memakai empat hari sisanya untuk berkencan. Lucy memilih kuliah ilmu komputer di Carnegie Mellon University, Pittsburgh.
Ia drop out setelah menerima Thiel Fellowship senilai USD 100.000. Pengalaman magang di Facebook mengantarnya menjadi desainer wanita pertama di Snapchat. Di platform Quora, Lucy berkenalan dengan Alexandr Wang, yang kemudian menjadi mitra pendirinya di Scale AI.
Setelah gatal ingin membangun perusahaan lagi, Lucy meluncurkan Passes pada 2022. Platform ini memungkinkan kreator menghasilkan uang lewat merchandise, siaran langsung, atau langganan berbayar. Lucy menyebut Passes lebih mirip Patreon ketimbang OnlyFans.
Ia mengaku terinspirasi Kylie Jenner dan Jake Paul yang berhasil membangun merek menguntungkan. "Kami telah menciptakan banyak jutawan, itu sangat menggembirakan," ujar Lucy. Passes kini menaungi sekitar 50 staf.
Lucy tinggal di Los Angeles bersama dua kucingnya, Chili dan Sega. Hari kerjanya dimulai sekitar pukul 5 pagi dengan kelas olahraga ganda di Barry's Bootcamp. Ia lalu bekerja di kantor seluas lebih dari 2.300 meter persegi hingga pukul 8 malam, sering tanpa jeda makan siang dan memesan makanan lewat Uber Eats.
Kebiasaan begadang menari bersama teman hingga pukul 2 pagi tidak mengganggu produktivitasnya. "Genetikku membuatku tidak perlu banyak tidur. Terima kasih, Ayah dan Ibu," ujarnya. Lucy juga mengaku pernah mencoba pensiun dan gagal. "Konsep hari libur tidak masuk akal bagiku. Aku suka menggunakan otakku," kata dia.
Orang tuanya tetap menekan soal keturunan. "Mereka bilang padaku kamu bakal melajang selamanya, tapi kami tetap ingin punya cucu. Kamu sebaiknya mencari donor sperma dan melahirkan tiga bayi supaya kami bisa jadi kakek-nenek," kisah Lucy. Ia menilai butuh pasangan yang sangat percaya diri untuk berkencan dengannya.
Lucy menyebut arogansi sebagai karakter wajib pendiri perusahaan. Menurutnya, membangun unicorn adalah pemikiran gila karena jumlahnya hanya segelintir di dunia. "Semua pendiri perusahaan butuh arogansi, karena jika tidak, Anda tidak akan mampu mengerahkan seluruh tenaga dan bekerja 100 jam dalam seminggu," ucapnya.
Reaksi Lucy saat pertama kali disebut miliarder justru santai. Ia mengaku perbedaan terbesar dari status itu adalah menerima lebih banyak barang promosi gratis. "Aku suka barang-barang gratis. Aku baru saja mendapat empat jenis chilli oil yang berbeda," ujarnya.