MALUKU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan eksplorasi besar-besaran minyak, gas, dan mineral langka di Greenland akan segera dimulai. Ambisi itu muncul saat harga energi menekan masyarakat AS menjelang pemilihan paruh waktu November 2026, tetapi kondisi alam Arktik membuat realisasinya jauh dari sederhana.
Paragraf pembuka: Pernyataan Trump disampaikan melalui platform Truth Social, tak lama setelah ia menghadiri acara kampanye di Wasilla, Alaska, untuk mendukung Senator Republik Dan Sullivan yang mencalonkan diri kembali. Alaska dan Greenland sama-sama masuk kawasan Arktik yang selama ini menjadi incaran negara-negara besar karena kandungan sumber daya alamnya.
Greenland menyimpan cadangan mineral tanah jarang yang dibutuhkan untuk memproduksi komputer, telepon pintar, baterai, hingga perangkat energi surya dan angin. Survei Geologi AS juga mengidentifikasi potensi cadangan minyak dan gas alam signifikan di lepas pantai Greenland.
Namun selama puluhan tahun, eksplorasi dan ekstraksi di wilayah itu belum berkembang melampaui tahap penjajakan. Mineral tanah jarang terperangkap dalam batuan, sementara cadangan minyak dan gas lepas pantai berada di kawasan yang tertutup es Arktik.
Kondisi tersebut membuat pengembangan lapangan migas di Greenland menuntut teknologi khusus dan biaya besar. Es yang menutup sebagian besar perairan hanya menyisakan jendela operasi singkat setiap tahun.
China saat ini mendominasi pasokan global mineral strategis, dan pemerintahan Trump berupaya mengurangi ketergantungan AS terhadap pasokan dari Beijing. Perang dagang teknologi antara kedua negara membuat mineral tanah jarang menjadi komoditas yang makin sensitif secara geopolitik.
Tekanan ekonomi ikut memperkuat dorongan eksplorasi. Kenaikan harga energi membebani masyarakat AS menjelang pemilihan paruh waktu pada November 2026, di tengah dampak perang AS terhadap Iran. Dalam konteks itu, cadangan migas Arktik dipandang sebagai jalan untuk memperkuat ketahanan energi domestik.
Greenland bukan wilayah kosong yang siap dibor. Infrastruktur jalan, pelabuhan, dan jaringan listrik masih sangat terbatas di sebagian besar wilayah, sehingga operasi pengeboran skala besar harus membangun fondasi dari nol.
Faktor lingkungan menambah beban. Ekstraksi di kawasan Arktik berisiko tinggi terhadap ekosistem yang rapuh, dan setiap rencana pengeboran lepas pantai menghadapi pengawasan ketat dari otoritas lingkungan. Biaya logistik untuk mendatangkan peralatan berat ke wilayah bersuhu ekstrem juga jauh di atas operasi di daratan AS.
Aspek geopolitik tak kalah rumit. Greenland adalah wilayah otonom di bawah Denmark, sehingga keputusan investasi tidak sepenuhnya berada di tangan Washington. Denmark dan pemerintah lokal Greenland memiliki kewenangan sendiri atas perizinan sumber daya.
Penutup: Pernyataan Trump menegaskan bahwa Arktik kini masuk daftar prioritas kebijakan sumber daya AS, bukan sekadar wacana kampanye. Namun tanpa terobosan teknologi pengeboran dan kesepakatan dengan Denmark, eksplorasi besar-besaran di Greenland masih akan berjalan lebih lambat dari yang dijanjikan.