MALUKU — Paragraf pembuka: Penemuan ini diumumkan setelah tim arkeolog menyelesaikan penggalian di kawasan Trujillo, pesisir utara Peru. Ketua tim arkeolog Jorge Meneses menyatakan struktur tersebut merupakan mausoleum kuno yang digunakan untuk memakamkan seseorang bersama kerabat dekatnya. Menteri Kebudayaan Peru Alberto Beingolea menyebut temuan ini sebagai makam yang berkaitan dengan elite kerajaan Chimú.
Platform pemakaman berukuran sekitar 17 meter dengan tinggi lima meter itu memiliki tiga ruangan utama yang saling terhubung. Di dalam struktur inilah 38 kerangka manusia ditemukan bersama berbagai barang yang diduga menjadi bagian dari ritual pemakaman.
Menurut Meneses, tata ruang yang saling terhubung menunjukkan bahwa mausoleum ini dirancang untuk memakamkan satu orang utama bersama kerabat dekatnya. Pola pemakaman semacam ini memperkuat dugaan bahwa lokasi tersebut diperuntukkan bagi kalangan berstatus tinggi dalam masyarakat Chimú.
Di sekitar kerangka, arkeolog menemukan berbagai ornamen seperti kalung dari kerang dan kuarsa, penutup kepala berlapis tembaga, hingga kotak kayu berukir dengan inlai logam. Sejumlah kerangka juga menunjukkan adanya pigmen merah pada bagian kepala.
Pigmen merah tersebut disebut berkaitan dengan pemakaman berstatus tinggi dalam masyarakat Andes. Kombinasi ornamen dan perlakuan khusus pada jenazah menjadi indikasi bahwa mereka yang dimakamkan di sini bukan orang sembarangan.
Temuan tersebut menambah bukti mengenai kemegahan peradaban Chimú yang berkembang pada abad ke-10 hingga ke-15 di pesisir utara Peru. Kawasan Trujillo dikenal sebagai salah satu pusat politik dan kebudayaan kerajaan Chimú sebelum akhirnya ditaklukkan oleh Inka.
Hingga kini, kawasan tersebut masih menyimpan berbagai jejak sejarah. Penggalian di Trujillo terus dilakukan untuk mengungkap lapisan-lapisan peradaban yang pernah berkuasa di pesisir utara Peru sebelum kedatangan Inka.
Penutup: Penemuan 38 kerangka di dalam mausoleum berukuran 17 meter ini memperkuat posisi Trujillo sebagai salah satu situs kunci peradaban Chimú. Bagi arkeolog, temuan ini menambah data tentang praktik pemakaman elite kerajaan yang berkuasa di pesisir utara Peru selama sekitar lima abad sebelum ditaklukkan Inka.