AMBON — Upaya menanggulangi persoalan sampah di Kota Ambon tidak lagi bisa berjalan sendiri-sendiri. Wali Kota Ambon Bodewin Melkias Wattimena menyatakan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam membangun sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, termasuk pemasangan trash boom di sejumlah sungai.
Hal itu disampaikannya di sela kegiatan Kolaborasi Gerakan Lingkungan Berkelanjutan di Ruang Vlissingen, Balai Kota Ambon, Kamis (20/8/2026). Menurut Bodewin, karakter persoalan perkotaan seperti sampah, kawasan kumuh, hingga kemacetan sangat kompleks dan tidak mungkin dituntaskan pemerintah seorang diri.
Salah satu langkah konkret yang diambil adalah pemasangan trash boom di tiga sungai yang melintasi Kota Ambon. Alat ini berfungsi menjaring sampah yang terbawa arus sebelum mencapai muara dan mencemari laut.
“Sesungguhnya masalah-masalah tersebut tidak bisa diselesaikan sendiri. Karena itu, kita terus membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk bersama-sama mencari solusi terhadap persoalan yang dihadapi Kota Ambon,” ujar Bodewin dalam keterangannya.
Pemkot Ambon terus berupaya meningkatkan kapasitas pengelolaan persampahan, baik dari sisi kualitas sumber daya manusia maupun penyediaan infrastruktur pendukung. Namun, Bodewin mengingatkan bahwa kemampuan pemerintah mengangkut sampah memiliki keterbatasan.
Tanpa diiringi kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan, kata dia, fasilitas yang dibangun tidak akan optimal. "Perubahan perilaku masyarakat dalam membuang sampah" disebutnya sebagai faktor penentu yang tidak bisa digantikan oleh teknologi sekalipun.
Kolaborasi yang dimaksud tidak hanya melibatkan aparatur sipil negara. Komunitas peduli lingkungan, akademisi, hingga dunia usaha diharapkan ikut mengambil peran aktif dalam menjaga kebersihan kota.
Langkah ini dinilai penting mengingat Ambon sebagai kota pesisir sangat rentan terhadap dampak pencemaran sampah plastik. Jika pengelolaan dilakukan secara gotong royong, beban pemerintah dalam penanganan sampah bisa berkurang signifikan.