Gempa NTT M7,7 Dipicu Sesar Flores, BMKG Catat 235 Gempa Susulan dan Tsunami 1,61 Meter

Penulis: Ragil  •  Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:07:01 WIB
Petugas BMKG memantau grafik aktivitas gempa susulan yang tercatat hingga 235 kali pasca gempa utama M7,7 di NTT.

MALUKUBMKG mencatat 235 gempa susulan hingga Sabtu (15/8) pukul 14.00 WIB pasca gempa utama M7,7 yang berpusat di kedalaman 15 kilometer. Distribusi gempa-gempa susulan tersebut tersebar di sebelah utara Pulau Flores dengan magnitudo bervariasi dari M2,5 hingga M6,2. Grafik pemantauan badan meteorologi tersebut menunjukkan tren aktivitas gempa susulan belum mereda.

Proses Peluruhan Gempa Butuh Waktu Hingga Tiga Pekan

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan estimasi peluruhan alami aktivitas seismik membutuhkan waktu dua hingga tiga minggu. Pola ini serupa dengan rekaman gempa bumi merusak yang pernah terjadi di Maluku Utara sebelumnya.

"BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya," kata Teuku Faisal Fathani dalam keterangan resminya, Sabtu (15/8).

Dampak Tsunami Terpantau Hingga Sulawesi Selatan

Gempa dangkal tersebut memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Jaringan pemantauan muka air laut atau tide gauge mencatat puncak ketinggian gelombang 1,61 meter di Reo, Manggarai dan Manggarai Timur.

Di Maurole, Ende, gelombang tercatat setinggi 0,94 meter. Sementara di Bulukumba dan Sape, Bima, ketinggiannya melampaui 0,5 meter. Seluruh peringatan dini tsunami resmi diakhiri BMKG pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan menunjukkan kondisi muka laut kembali aman.

Rekam Jejak Sesar Flores: Dari M7,8 Tahun 1992 Hingga Kini

Berdasarkan histori dan karakteristik wilayah, proses stabilisasi sesar membutuhkan waktu tertentu sebelum aktivitas seismik kembali normal. Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust memiliki rekam jejak gempa merusak yang panjang.

Salah satu catatan terbesar adalah gempa M7,8 pada kedalaman 28 kilometer yang mengguncang wilayah tersebut pada 1992. Gempa kali ini memiliki pusat yang lebih dangkal, yakni 15 kilometer, sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat pada bangunan dan infrastruktur.

Kedalaman episentrum yang lebih dangkal membuat energi getaran lebih terasa di permukaan. Hal ini menjadi perhatian utama bagi warga pesisir dan pemerintah daerah dalam upaya mitigasi bencana jangka pendek.

Reporter: Ragil
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top