MALUKU — Kombinasi ini sengaja dipilih bukan untuk mengejar akurasi maksimal, melainkan untuk kenyamanan mendengarkan jangka panjang. Saya memakai setup ini untuk bekerja dan mendengarkan musik setiap hari, dan hasilnya memuaskan—dengan satu catatan penting soal karakter suara yang tidak netral.
Artikel ini adalah pengalaman pribadi penulis, bukan sekadar rangkuman spesifikasi dari pabrikan. Semua produk dibeli dengan uang sendiri, dan tidak ada sponsor dari Meze Audio maupun iFi.
Dua nama itu hampir selalu muncul di forum audiophile Reddit, dan memang punya reputasi bagus. HIFIMAN Sundara menawarkan driver planar magnetis dengan respons bass yang impresif, tapi build quality-nya mengecewakan—banyak laporan headband patah dan produk ini sering dikembalikan di Amazon.
Sennheiser HD 650 juga bagus, tapi tuning-nya cenderung netral dengan treble yang lebih terang. Buat saya yang telinganya sudah tidak muda lagi, itu bikin cepat lelah. Harga HD 650 juga tidak murah, bahkan sempat menyentuh di atas USD 500 di Amerika Serikat.
Meze Audio adalah perusahaan asal Rumania, dan 105 AER ini punya desain Art Deco yang khas—jauh lebih menarik daripada kebanyakan headphone Sennheiser yang polos. Dengan harga normal USD 399, headphone ini sudah terasa premium. Saat artikel ini ditulis, harganya turun ke USD 299 di Amazon, yang menurut saya adalah nilai terbaik di kelasnya.
Build quality-nya jauh di atas HIFIMAN Sundara, padahal selisih harganya bisa cuma USD 120. Headband-nya tidak perlu disetel—pegas di dalamnya menyesuaikan tekanan secara otomatis saat dipakai, dan hasilnya sangat nyaman bahkan untuk pemakaian berjam-jam. Bantalan telinga dari velour vegan juga adem di kulit.
Ini bagian yang perlu dipahami sebelum membeli. Tuning 105 AER jelas hangat dengan treble yang di-roll off. Bass-nya tebal dan halus, tapi tidak sedalam Sundara yang pakai driver planar. Pada lagu "Antigravity" dari Sohn, sub bass di bagian akhir tidak terasa menggetarkan kepala—di sinilah DAC dengan tombol Xbass berperan.
Mid-range adalah kekuatan utama headphone ini. Gitar distorsi di "Seek & Destroy" dari Metallica terdengar bertekstur, dan vokal John Fogerty di "Fortunate Son" dari Creedence Clearwater Revival terdengar organik—saya bisa mendengar serak dan pecah di suaranya. Tapi untuk simbal dan efek high-end, detailnya kurang tajam dibanding Sennheiser.
Headphone ini sebenarnya bisa dipakai langsung dari laptop atau smartphone. Impedansi 42? dan sensitivitas 112 dB/mW artinya tidak sulit untuk dipicu. Tapi dengan DAC khusus, kontrol suara jadi lebih stabil dan bebas distorsi.
Saya memilih iFi hip dac 3 seharga USD 199 karena satu fitur: tombol Xbass yang menaikkan frekuensi 20-30Hz hingga +6dB. Ini menjawab kekurangan sub bass dari 105 AER. Bentuknya seperti hip flask, muat di saku, dan buatan perusahaan Inggris (meski diproduksi di China). Alternatif lain seperti FiiO K11 R2R seharga USD 179 punya fitur upsampling, tapi harus dicolok ke listrik.
Setup ini bukan untuk mereka yang mencari suara netral ala studio atau detail treble maksimal. Kalau itu yang kamu cari, Sennheiser HD 650 tetap pilihan yang lebih tepat.
Tapi kalau kamu menghabiskan berjam-jam mendengarkan musik setiap hari dan mulai lelah dengan suara yang terlalu terang, kombinasi Meze 105 AER dan iFi hip dac 3 ini sangat layak dipertimbangkan. Headphone-nya nyaman, build-nya awet, dan tombol Xbass di DAC memberi fleksibilitas untuk menambah bass kapan pun kamu mau. Total belanja masih di bawah harga AirPods Max 2, dengan kualitas yang jauh lebih serius.