BURU — Tim ekspedisi yang terdiri dari komunitas pendaki Kanal Buru, American Bird Conservancy (ABC), Birdtour Asia, dan Yayasan Planet Indonesia berhasil menyaksikan langsung burung nuri dahi biru di habitat aslinya. Spesies endemik Pulau Buru ini pertama kali dideskripsikan pada 1920-an dari tujuh spesimen dan nyaris tidak pernah terdeteksi selama hampir satu abad, sehingga sempat dianggap punah.
Perjalanan menyusuri lanskap terpencil Pulau Buru dilakukan pada April lalu. Pemandu sekaligus pemimpin tur Birdtour Asia, Sumaraja, mengaku tak kuasa menahan air mata saat melihat langsung burung mungil tersebut. "Saat kami melihat burung nuri dahi biru, saya tidak bisa menahan air mata," ujarnya.
Nuri dahi biru memiliki bulu hijau limau yang khas, paruh oranye mencolok, mahkota belakang berwarna biru, serta ekor runcing. Ukurannya yang kecil membuat burung ini sulit terdeteksi di tengah lebatnya hutan dataran tinggi Gunung Kapalatmada.
Sejak dideskripsikan pada 1920-an, nuri dahi biru hanya tercatat dalam dokumentasi ilmiah satu kali selama lebih dari seratus tahun. Hilangnya habitat akibat deforestasi dan perburuan liar menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidup spesies endemik ini. Penemuan terbaru ini memberikan harapan baru bagi upaya konservasi burung endemik Maluku.
Tim ekspedisi masih terus melakukan pemantauan untuk memastikan populasi dan sebaran nuri dahi biru di Pulau Buru. Data yang terkumpul akan menjadi dasar bagi rekomendasi status konservasi spesies ini di tingkat nasional maupun global.