MALUKU — Level 6.000 sempat hilang dari papan perdagangan selama sebulan terakhir. Kembalinya IHSG ke angka tersebut pada akhir pekan lalu disambut positif oleh kalangan emiten BUMN. Deputi BP BUMN Bidang Keuangan dan Pasar Modal, Ahmad Fauzi, menilai pergerakan ini bukan sekadar rebound teknikal, melainkan cerminan fundamental ekonomi yang tetap solid.
"Investor mulai melihat kembali valuasi saham BUMN yang sudah murah. Likuiditas di pasar juga membaik," ujar Ahmad dalam keterangan resmi, Sabtu (13/6).
Beberapa saham BUMN tercatat menjadi motor penggerak penguatan IHSG. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mencatatkan volume transaksi tertinggi selama sesi perdagangan.
PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya yang tercatat di bursa juga turut mendongkrak indeks sektor energi. Kenaikan harga komoditas global dalam dua pekan terakhir menjadi katalis positif bagi saham-saham energi dan pertambangan milik negara.
Ahmad menambahkan, data ekonomi makro yang dirilis Bank Indonesia pekan lalu turut memperkuat sentimen. Inflasi yang terkendali dan cadangan devisa yang stabil membuat investor asing kembali melirik pasar saham Indonesia.
Kembalinya IHSG ke level 6.000 memberikan angin segar bagi investor ritel yang sempat mengalami tekanan. Banyak portofolio saham BUMN yang sempat tertekan kini mulai membaik.
BP BUMN sendiri tengah mendorong emiten pelat merah untuk mempercepat aksi korporasi bernilai tambah. "Kami ingin emiten BUMN tidak hanya jadi papan utama karena ukurannya, tapi juga karena memberikan imbal hasil yang kompetitif," tegas Ahmad.
Ke depan, BP BUMN akan fokus pada peningkatan dividen dan pembelian kembali saham (buyback) oleh emiten yang memiliki kas kuat. Langkah ini diharapkan bisa menjaga momentum penguatan IHSG dan menarik lebih banyak investor masuk ke pasar modal Tanah Air.