AMBON — Anak-anak dan remaja di Negeri Abubu, Kecamatan Nusalaut, tidak hanya mendapat siraman rohani dalam kegiatan Temu Anak dan Remaja Jemaat GPM Abubu. Mereka juga dibekali keterampilan literasi digital untuk menghadapi era informasi yang kian kompleks.
Mafindo Maluku mengirimkan Sekretarisnya, Wellsy Bakarbessy, untuk memandu sesi bertajuk “Saring Sebelum Sharing: Bahaya Internet bagi Remaja”. Materi ini dirancang agar generasi muda di tanah kelahiran Pahlawan Nasional Martha Christina Tiahahu itu tidak mudah terpapar hoaks dan mampu menjaga privasi di ruang digital.
Dalam sesi yang berlangsung interaktif, para peserta diajak langsung mempraktikkan teknik cek fakta sederhana. Mereka menganalisis contoh-contoh informasi hoaks yang beredar di masyarakat, lalu membandingkannya dengan sumber terpercaya.
Tidak berhenti di situ, Wellsy juga memperkenalkan penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) secara positif. Remaja Abubu diajarkan melakukan prompting sederhana—cara memberikan perintah yang tepat kepada AI—sebagai alat bantu belajar dan berkarya, bukan sekadar untuk konsumsi konten instan.
Negeri Abubu yang terletak di Pulau Nusalaut, sekitar lima jam perjalanan darat dan laut dari Kota Ambon, memiliki keterbatasan akses terhadap informasi. Kondisi ini membuat remaja di sana rentan terhadap berita bohong yang menyebar cepat melalui aplikasi pesan instan dan media sosial.
“Anak-anak dan remaja saat ini tumbuh bersama teknologi, sehingga mereka perlu dibekali kemampuan untuk berpikir kritis, skeptis, dan menjaga privasi, serta memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab,” ujar Wellsy Bakarbessy dalam rilis yang diterima media, Sabtu (30/5).
Ia menambahkan bahwa kemampuan ini menjadi bekal penting agar mereka tidak sekadar menjadi konsumen pasif, tetapi juga pengguna digital yang cerdas.
Selain sesi digital, kegiatan ini juga mengasah sisi kreatif peserta. Seniman muda Maluku, Tessart Saija, mengajarkan konsep zinebook—buku mini buatan tangan sebagai media menuangkan ide, cerita, dan ekspresi diri. Sesi dilanjutkan dengan mewarnai dan melukis, memberikan keseimbangan antara keterampilan teknologi dan seni.
Ketua Pengasuh SMTPI Jemaat GPM Abubu, Sin Peilouw, menyampaikan apresiasi atas pengalaman baru yang diperoleh anak-anak binaannya. “Kegiatan ini memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi remaja kami, khususnya terkait penggunaan internet, pengenalan kecerdasan buatan. Kami berharap ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal yang berguna bagi mereka di masa depan,” ungkapnya.
Kegiatan ini menjadi contoh bagaimana komunitas adat di Maluku merespons tantangan digital tanpa meninggalkan identitas budaya. Remaja Abubu kini tidak hanya mengenal pahlawan dari tanahnya sendiri, tetapi juga dibekali senjata melawan hoaks di era modern.