MALUKU — Forum yang digelar di Telkom Landmark Tower ini menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan strategis, mulai dari Dirjen Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Edwin Hidayat Abdullah, Managing Director Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia Ricardo Irwan Rei, hingga Deputi IV BSSN Slamet Aji Pamungkas. Direktur Strategic Business Development and Portfolio Telkom Seno Soemadji menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar digital.
Seno menjelaskan bahwa adopsi teknologi digital yang masif membuat isu kedaulatan teknologi menjadi perhatian banyak negara. Ketergantungan pada infrastruktur dan platform asing, menurutnya, tidak lagi sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut ketahanan ekonomi hingga kepentingan strategis nasional. "Kondisi tersebut semakin menegaskan pentingnya penguatan sovereign digital ecosystem untuk memastikan data, infrastruktur, kapabilitas AI, serta keamanan digital nasional tetap berada dalam kepentingan, hukum, dan kendali negara," ujar Seno dalam keterangan resmi, Jumat (22/5).
Di forum yang sama, Telkom memperkenalkan AdyaCakra—sebuah inisiatif yang mencakup pengembangan sovereign cloud, sovereign AI, dan sovereign cybersecurity. Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat peran Indonesia sebagai pengembang dan penggerak ekosistem digital regional. "AdyaCakra diharapkan menjadi bagian dari kontribusi Telkom dalam memperkuat fondasi digital sovereignty Indonesia," tambah Seno.
Forum ini juga menandai peluncuran Charter of Digital Sovereignty, sebuah dokumen kesepakatan bersama untuk memperkuat ekosistem teknologi nasional. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari infrastruktur cloud berdaulat, pengembangan AI berbasis konteks lokal, penguatan ketahanan siber, hingga pembangunan kapasitas talenta digital.
Melalui forum ini, Telkom mendorong agar Indonesia mampu mengelola dan memonetisasi aset digital nasional sendiri. Langkah ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai ekonomi digital global. Seno menambahkan bahwa momentum transformasi digital harus menjadi titik balik: "Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak hanya menjadi pasar digital, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembangunan ekosistem teknologi regional."
Visi ini sejalan dengan strategi transformasi TLKM 30, di mana Telkom memperkuat perannya sebagai orkestrator ekosistem digital nasional. Perusahaan juga telah mengadopsi lima pilar AI Center of Excellence (AI CoE), termasuk kolaborasi dengan kampus lewat AI Campus dan penyediaan ruang kreasi bagi developer melalui AI Playground.
Indonesia Tech Sovereignty Forum 2026 menjadi sinyal bahwa kedaulatan teknologi bukan lagi wacana, melainkan langkah konkret yang mulai diorkestrasi oleh BUMN telekomunikasi pelat merah.