AMBON — Kritik bermunculan di ruang komentar unggahan Facebook Bhiken Leurima setelah kalimat berbahasa Ambon itu beredar. Pantauan Porostimur.com, Minggu (8/11/2026), menunjukkan sejumlah warganet menilai pernyataan tersebut mencampuradukkan aktivitas peribadatan dengan kepentingan politik.
Penggunaan istilah gereja dalam narasi politik memang bukan kali pertama memicu perdebatan di media sosial. Kali ini, sorotan tertuju pada satu unggahan yang menyebut jemaat pergi ke gereja untuk mengurus politik 2029.
Sejumlah pengguna Facebook menilai kalimat itu berpotensi menyinggung umat Kristen. Nama gereja dan aktivitas peribadatan dianggap ditarik ke wilayah yang seharusnya berdiri sendiri dari kepentingan elektoral.
Kritik tidak berhenti pada soal diksi. Beberapa warganet meminta Bhiken menjelaskan secara terbuka gereja, jemaat, maupun pihak yang dimaksud dalam unggahan tersebut.
Permintaan itu muncul karena kalimat tanpa keterangan spesifik dinilai membuka ruang penafsiran terlalu luas. Warganet khawatir pernyataan tersebut justru menyeret institusi gereja secara umum.
Salah satu kritik disampaikan akun Maya Talabesy. Ia mempertanyakan penggunaan istilah gereja tanpa disertai penjelasan yang spesifik.
"Ade Bhiken Leurima, kalau bawa nama gereja, tolong lengkapi gereja apa, jemaat mana? Tidak perlu pakai tameng bilang lihat saja di media dan sebagainya. Kan ale yang upload status ini di Facebook, jadi harusnya informasi di postingan lebih akurat," tulis Maya Talabesy.
Kritik itu menyoroti tanggung jawab pengunggah sebagai sumber informasi. Menurut Maya, status yang dipublikasikan di Facebook semestinya memuat keterangan yang akurat sejak awal, bukan mengarahkan pembaca mencari penjelasan di tempat lain.
Porostimur.com mencatat penggunaan istilah gereja dalam narasi politik sebelumnya juga pernah memicu perdebatan. Pola yang berulang itu membuat warganet di Ambon semakin sensitif terhadap setiap unggahan yang menyebut rumah ibadah dan politik dalam satu kalimat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Bhiken Leurima terkait kritik yang beredar. Ruang komentar unggahannya masih dipenuhi permintaan klarifikasi dari sejumlah pengguna Facebook.