HALMAHERA TIMUR — Perbaikan mesin pembangkit listrik di Maba Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, disebut berlangsung hampir satu bulan tanpa kepastian kapan rampung. Warga yang enggan disebutkan namanya menuangkan keluhan melalui unggahan Facebook pada Kamis (29/10/2026). Mereka menilai proses perbaikan belum menunjukkan hasil nyata bagi pemulihan layanan listrik.
Dalam unggahannya, warga mempertanyakan lamanya penanganan mesin pembangkit yang dinilai tak kunjung selesai. Ia meminta PLN mengambil langkah tegas jika kerusakan memang sudah di luar batas perbaikan.
"Me maksudnya perbaikan mesin ni so mau hampir 1 bulan ni tra jadi-jadi ka? Kalau so tra bisa, ganti baru suda," tulis warga tersebut.
Permintaan penggantian unit baru disampaikan sebagai jalan terakhir. Warga berharap PLN dan pemerintah daerah tidak membiarkan persoalan ini berlarut-larut tanpa solusi konkret.
Selain persoalan mesin pembangkit, warga menyoroti kondisi jaringan komunikasi yang disebut mulai mengalami penurunan kualitas. Menurut warga, sudah muncul tanda-tanda hilangnya sinyal di kawasan Maba Selatan.
"Wahai para pemimpin, tolong perhatikan tong Maba Selatan pe mesin yang so tra layak ni ka, baru jaringan so mulai tanda-tanda menghilang," keluh warga tersebut.
Dua persoalan itu disebut saling memperparah dampak bagi warga. Pasokan listrik yang belum stabil dibarengi gangguan komunikasi membuat aktivitas harian dan koordinasi antarwarga terganggu.
Hingga keluhan itu disampaikan, belum ada keterangan resmi dari PT PLN maupun pemerintah daerah soal penyebab kerusakan dan target penyelesaian. Warga meminta kepastian jadwal perbaikan agar bisa menyesuaikan kebutuhan sehari-hari.
Menurut warga, kepastian penanganan kerusakan mesin sangat dibutuhkan agar masyarakat kembali menikmati layanan listrik secara lebih stabil. Mereka berharap PLN turun langsung menjelaskan kondisi terkini mesin pembangkit di Maba Selatan.
Persoalan ini menambah daftar keluhan layanan dasar di wilayah kepulauan yang bergantung pada pembangkit lokal. Warga menegaskan, solusi konkret lebih penting daripada janji perbaikan yang tak disertai tenggat jelas.