BURU — Kepala BWS Maluku Ruslan Malik menyatakan pemompaan air dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Arnold Ritiauw. Arahan itu menyasar antisipasi dampak kekeringan di daerah melalui langkah cepat di lapangan.
"Tindakan atau apa yang kami lakukan ini dilakukan atas arahan dan perintah Bapak Dirjen SDA Kementerian PU, dalam antisipasi kekeringan sesuai slogan Cari, Temukan, dan Eksekusi, untuk mengatasi kekeringan di daerah," kata Ruslan, Minggu (4/10/2026).
Peninjauan tim BWS Maluku menemukan tanaman padi di Daerah Irigasi Meten sudah berumur sekitar 60 hari pada musim tanam II. Ketersediaan air irigasi di areal itu belum mencukupi kebutuhan tanaman.
Kondisi tersebut membuat petani di Desa Waekerta menghadapi risiko gagal panen jika pasokan air tidak segera ditambah. Lahan yang terdampak mencakup sekitar 12 hektare.
Tim kemudian menemukan sumber air alternatif yang berjarak sekitar 60,53 meter dari lokasi sawah. Air dari sumber itu dipompa menuju lahan persawahan yang mengalami kekurangan pasokan.
Pemompaan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air pada lahan seluas sekitar 12 hektare. Langkah itu diharapkan dapat mempertahankan kondisi tanaman padi hingga memasuki masa panen.
Penanganan kekeringan di D.I. Meten dilakukan bersama Tim BWS Maluku, BPP Waeapo, dan P3A/Poktan Sari Bumi 2. Ketiga pihak bergerak sebagai bagian dari upaya antisipasi dan penanganan dampak kekeringan pada lahan pertanian.
Kabupaten Buru termasuk wilayah yang mengandalkan irigasi permukaan untuk produksi padi. Ketersediaan air yang menurun pada musim kemarau membuat pompanisasi menjadi salah satu solusi cepat di tingkat petak sawah.