MALUKU — PT Pertamina Lubricants bersama TI&I Pertamina (Persero) meluncurkan katalis FCC, RCC, dan RFCC hasil riset internal Pertamina Group. Katalis ini akan dipakai Kilang Cilacap untuk mempercepat reaksi pengolahan minyak sekaligus membuka jalan substitusi produk impor.
Kolaborasi ini melibatkan dua fungsi berbeda di dalam Pertamina Group. TI&I menangani pengembangan formulasi dan teknologi, sementara Pertamina Lubricants mengurus aspek komersial sampai produk siap diproduksi dan dipakai kilang. Pembagian peran itu membuat hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi masuk ke kebutuhan operasional.
Katalis sendiri berfungsi mempercepat reaksi dalam pengolahan minyak dengan energi aktivasi lebih rendah. Dampaknya, efisiensi dan produktivitas kilang bisa naik tanpa harus menambah beban energi.
Kilang Pertamina Cilacap menjadi pengguna pertama katalis hasil pengembangan kolaborasi antar riset Pertamina Group ini. Pemakaian di kilang sesungguhnya menjadi ujian lapangan sebelum produk diperluas ke fasilitas lain.
Corporate Secretary Pertamina Lubricants, Rika Gresia Wahyudi, menyebut keberhasilan ini sebagai tonggak penting dalam komersialisasi hasil riset. Ia berharap capaian itu berkembang dan mendorong upaya lebih besar menuju kemandirian teknologi di sektor energi.
"Langkah ini sejalan dengan semangat Asta Cita Pemerintah dalam memperkuat kemandirian industri nasional dan hilirisasi berbasis inovasi dalam negeri," ujar Rika, Rabu (23/9).
Sinergi antara TI&I Pertamina dan Pertamina Lubricants dinilai bisa ditiru untuk pengembangan katalis maupun produk specialty chemical lain di lingkungan Pertamina Group. Dengan pola itu, ketergantungan pada katalis impor dapat dikurangi secara bertahap.
Rika menambahkan pengalaman panjang Pertamina Lubricants dalam mengelola komersialisasi menjadi modal penting. Menurutnya, kolaborasi ini membuktikan sinergi Pertamina Group mampu menghubungkan inovasi dengan kebutuhan operasional secara end-to-end.
"Pertamina Lubricants berperan menjembatani hasil pengembangan formulasi dari TI&I dengan proses komersialisasi, sehingga inovasi yang dihasilkan dapat diuji dan digunakan untuk menjawab kebutuhan kilang," ujarnya.
Ke depan, pengembangan teknologi ini diarahkan mendukung pembangunan fasilitas produksi katalis FCC/RFCC di dalam negeri. Langkah tersebut sekaligus memperluas portofolio specialty chemicals Pertamina Lubricants.
Bagi industri pengolahan minyak nasional, kemampuan memproduksi katalis sendiri berarti ruang gerak lebih besar saat pasar global bergejolak. Pasokan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pemasok luar, sementara biaya pengadaan berpotensi lebih terkendali.
Pertamina Lubricants memposisikan diri bukan sekadar sebagai produsen pelumas, tetapi juga pemain specialty chemical yang menopang operasional kilang Pertamina Group.