Pusat Data AI Jadi Sorotan di New York Climate Week 2026

Penulis: Sutomo  •  Rabu, 23 September 2026 | 14:44:01 WIB
Peserta menghadiri New York Climate Week 2026 yang menjadikan pusat data AI sebagai topik utama pembahasan.

MALUKU — New York Climate Week 2026 menjadikan pusat data AI sebagai topik utama karena konsumsi listriknya yang sangat besar. Para pemimpin global mulai membahas solusi energi terbarukan dalam pertemuan yang digelar Senin (21/9). Laporan terbaru menyebut dunia telah melampaui tujuh dari sembilan batas planet yang aman.

Pusat data yang menyokong teknologi kecerdasan buatan kini menjadi salah satu pembahasan terpanas dalam gelaran New York Climate Week 2026. Kegiatan ini berlangsung bersamaan dengan Sidang Umum PBB dan dihadiri para pejabat tinggi pemerintah serta eksekutif bisnis global.

Pertemuan tahunan ini rutin membahas pemanasan global, tetapi tahun ini tekanan berbeda muncul. Perkembangan AI yang pesat, kenaikan harga bahan bakar fosil akibat perang di Iran dan Ukraina, serta bencana iklim di Asia menjadi pemicu utama.

Laporan Terbaru: Dunia Lampaui Tujuh Batas Planet

Planetary Boundaries Science Lab dari Potsdam Institute for Climate Impact Research di Jerman merilis laporan pada Senin (21/9). Temuan utamanya: dunia telah melampaui tujuh dari sembilan batas planet yang ditentukan secara ilmiah untuk bumi yang sehat.

"Bumi sebagai pasien sedang tidak sehat," kata Johan Rockström, Direktur Potsdam Institute for Climate Impact Research.

Rockström menambahkan bahwa kondisi ini tidak hanya membahayakan stabilitas dan sistem pendukung kehidupan, tetapi juga mendekati ambang batas yang bisa memicu konsekuensi tak dapat dipulihkan.

AI Dianggap Paradoks: Perburuk atau Selesaikan Krisis Iklim

Kecerdasan buatan dengan pusat data yang boros energi dan air disebut sebagai paradoks. Fasilitas ini bisa memperburuk masalah iklim, tetapi juga berpotensi menjadi solusi.

Helen Clarkson, CEO organisasi nirlaba Climate Group yang menyelenggarakan New York Climate Week, menyebut dampak lingkungan AI dan pusat data sebagai "topik yang sangat hangat".

Kepala Bidang Iklim PBB, Simon Stiell, menyoroti sisi negatifnya. Menurut dia, AI yang boros energi mendorong peningkatan polusi dari batu bara, minyak, dan gas, sekaligus menaikkan biaya energi bagi rumah tangga dan bisnis.

"Para pemimpin AI kini berada di posisi yang sulit dalam hal izin operasi, dan semakin sulit pula meraih dukungan publik," ujar Stiell.

Pandangan Industri: AI Dibutuhkan untuk Atasi Perubahan Iklim

Eva Riesenhuber, kepala keberlanjutan perusahaan otomasi Jerman Siemens, melihat AI dari sisi berbeda. Menurutnya, AI sangat penting bagi umat manusia dan akan membantu mengatasi perubahan iklim.

"Kami berpacu untuk mengurangi dampak ini secepat mungkin karena kami bergantung pada kecerdasan (buatan), dan kami memang membutuhkan kecerdasan (buatan) untuk merancang masa depan yang dibutuhkan planet ini," ungkap Riesenhuber.

Evelyn Wang, wakil presiden bidang energi dan iklim di Massachusetts Institute of Technology, menilai masalah pusat data tidak akan berlangsung selamanya. Ia memperkirakan pusat data membutuhkan sekitar lima tahun lagi untuk mencapai water netral dan sekitar satu dekade untuk tidak lagi menambah emisi pemanasan global.

Transisi Energi Bersih Jadi Isu Keamanan Nasional

UK Secretary of State Edward Miliband menegaskan transisi ke energi bersih dan terbarukan kini merupakan kewajiban untuk keamanan nasional. Ia menyebut krisis iklim harus menjadi isu bagi menteri luar negeri, perdana menteri, hingga menteri energi dan iklim.

"Begitu juga di kalangan keamanan dan pertahanan, bukan hanya di kalangan aktivis. Para jenderal (juga harus terlibat), bukan hanya para penggiat lingkungan," kata Miliband.

Sepanjang New York Climate Week, kabarnya akan ada sejumlah aksi protes terkait AI. Gelaran ini menjadi penanda bahwa tekanan publik terhadap industri AI dan pusat data semakin menguat, seiring tuntutan solusi energi yang lebih bertanggung jawab.

Reporter: Sutomo
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top