Data LiDAR 2013 Ungkap Kota Maya Valeriana di Dekat Jalan Tol Meksiko

Penulis: Yasir  •  Senin, 07 September 2026 | 17:48:01 WIB
Citra LiDAR menunjukkan struktur kota kuno Maya Valeriana yang teridentifikasi di dekat jalan tol di Campeche, Meksiko.

MALUKU — Sebuah kota kuno yang selama ini tidak tercatat dalam peta arkeologi ditemukan bukan lewat penggalian tanah, melainkan dari pengolahan ulang data LiDAR yang dikumpulkan lebih dari satu dekade lalu. Para peneliti internasional mengidentifikasi Valeriana, permukiman Maya yang berada di dekat jalan tol dan area pertanian aktif di negara bagian Campeche, Meksiko.

Peran Data LiDAR dalam Penemuan Kota Hilang

Teknologi LiDAR bekerja dengan menembakkan pulsa laser dari pesawat ke permukaan bumi. Pantulannya kemudian diolah menjadi model tiga dimensi yang mampu menyingkirkan vegetasi lebat, sehingga struktur buatan manusia di bawah kanopi hutan bisa terlihat jelas.

Data yang digunakan berasal dari survei tahun 2013 yang awalnya ditujukan untuk memantau deforestasi dan pertumbuhan hutan. Luke Auld-Thomas, yang saat itu menjadi mahasiswa pascasarjana, bersama timnya memanfaatkan kembali data tersebut untuk mencari jejak permukiman Maya di dataran rendah.

Skala dan Struktur Perkotaan Valeriana

Pemetaan mengungkap area seluas 16,6 kilometer persegi dipenuhi struktur buatan manusia. Dua pusat monumental utama berjarak sekitar dua kilometer dan terhubung dengan kawasan permukiman padat. Di dalamnya terdapat plaza, kuil piramida, lapangan permainan bola, jalan pematang, serta waduk yang dibangun dengan membendung aliran air musiman.

Tim peneliti juga menemukan kompleks E-Group, jenis arsitektur yang mengindikasikan kawasan tersebut telah berkembang sejak masa awal peradaban Maya. Valeriana diperkirakan tumbuh pada periode Klasik Maya, sekitar 250-900 Masehi.

Kepadatan Bangunan Mencapai 426 Struktur per Kilometer Persegi

Analisis terhadap 122 kilometer persegi data LiDAR memetakan total 6.764 struktur. Kepadatan bervariasi dari kawasan hampir kosong hingga ratusan bangunan per kilometer persegi. Di area Valeriana sendiri, kepadatannya mencapai sekitar 426 struktur per kilometer persegi.

Temuan ini menyoroti bias dalam survei arkeologi selama ini yang kerap terfokus pada lokasi reruntuhan yang sudah diketahui. Dengan memakai data lingkungan yang dikumpulkan secara acak, peneliti memperoleh gambaran lebih utuh tentang lanskap permukiman Maya.

Mengapa Verifikasi Lapangan Masih Diperlukan

LiDAR memang mampu memperlihatkan bentuk dan lokasi struktur, tetapi tidak bisa menentukan usia bangunan, jumlah penghuni, atau fungsi masing-masing struktur. Para peneliti menegaskan hasil pemetaan Valeriana masih membutuhkan verifikasi di lapangan karena sebagian fitur bisa berupa formasi alami atau bangunan dari periode berbeda.

Auld-Thomas menyatakan kepada Daily Galaxy bahwa pemerintah dan komunitas ilmiah sebelumnya tidak mengetahui keberadaan kota tersebut. Artinya, kota kuno dengan piramida, sistem pengelolaan air, dan ribuan struktur mampu bertahan tersembunyi di dekat aktivitas manusia modern.

Penemuan Valeriana menegaskan bahwa ekspedisi besar bukan satu-satunya jalan menemukan peradaban yang hilang. Jawaban kerap tersimpan dalam data lama—tinggal menunggu teknologi dan pertanyaan yang tepat untuk membukanya.

Reporter: Yasir
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top