Demam pada Anak dan Risiko Kerusakan Otak: Fakta yang Perlu Mama Tahu

Penulis: Yasir  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 11:31:31 WIB
Orang tua mengamati suhu tubuh anak yang demam menggunakan termometer di rumah.

MALUKU — Kepanikan sering kali melanda orang tua ketika melihat anak demam tinggi. Kekhawatiran itu wajar, terutama jika si Kecil terlihat lemas dan rewel. Pertanyaan tentang kemungkinan demam merusak otak pun kerap muncul di benak para ibu.

Popmama.com merangkum penjelasan Dr. dr. Meta Hanindita, Sp.A. Subsp. N.P.M.(K) dari bukunya yang berjudul Mommyclopedia: 600 Mitos & Fakta tentang Bayi, Anak, dan Remaja untuk menjawab kekhawatiran tersebut.

Apa yang Sebenarnya Terjadi Saat Anak Demam?

Demam bukanlah penyakit, melainkan gejala. Kondisi ini menandakan sistem imun tubuh sedang bekerja melawan infeksi yang masuk. Kenaikan suhu tubuh ini adalah bagian dari mekanisme pertahanan alami.

Pada anak-anak, suhu tubuh bisa berubah dengan cepat. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk infeksi yang sedang menyerang. Tubuh akan menaikkan suhunya untuk membuat lingkungan yang tidak nyaman bagi virus atau bakteri.

Apakah Demam Tinggi Berisiko Merusak Otak Anak?

Pertanyaan ini sering menjadi sumber kecemasan terbesar bagi orang tua. Banyak yang percaya bahwa suhu tubuh yang sangat tinggi dapat "memasak" otak dan menyebabkan kerusakan permanen.

Menurut penjelasan dalam buku tersebut, demam akibat infeksi umumnya tidak menyebabkan kerusakan otak. Tubuh memiliki sistem pengatur suhu yang canggih, sehingga suhu inti tubuh tidak akan naik secara ekstrem hanya karena infeksi biasa.

Kerusakan otak yang dikaitkan dengan suhu tinggi sangat jarang terjadi. Kondisi ini biasanya terkait dengan faktor lingkungan, seperti anak tertinggal di dalam mobil yang panas, atau kondisi medis tertentu yang memengaruhi pusat pengatur suhu di otak, bukan karena infeksi biasa.

Kapan Mama Perlu Lebih Waspada dengan Demam Anak?

Meski demam umumnya tidak berbahaya, ada beberapa kondisi yang mengharuskan Mama lebih waspada. Perhatikan perilaku anak, bukan hanya angka di termometer.

Segera konsultasikan dengan dokter jika anak mengalami demam disertai tanda-tanda seperti:

  • Bayi berusia di bawah 3 bulan dengan suhu rektal mencapai 38°C atau lebih.
  • Anak terlihat sangat lemas, sulit dibangunkan, atau rewel secara berlebihan.
  • Muncul ruam kulit yang tidak hilang saat ditekan.
  • Terdapat tanda dehidrasi, seperti mulut kering dan tidak ada air mata saat menangis.
  • Anak mengalami kejang atau kesulitan bernapas.

Yang terpenting adalah mengamati bagaimana kondisi umum anak. Jika anak masih mau bermain, minum, dan merespons dengan baik, demam biasanya bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

Demam adalah bagian normal dari proses tumbuh kembang anak. Dengan pemahaman yang benar, Mama bisa lebih tenang dan fokus memberikan kenyamanan serta perawatan terbaik untuk si Kecil selama masa pemulihan.

Reporter: Yasir
Sumber: popmama.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top