AMBON — Sorotan terhadap layanan penyeberangan Hunimua–Waipirit kembali mengemuka setelah beredarnya foto kondisi di dalam Feri Tanjung Koako yang memperlihatkan ruang penumpang melebihi kapasitas tempat duduk. Dalam foto yang diambil sekitar pukul 15.49 WIT itu, terlihat sejumlah penumpang memilih duduk di lantai karena kursi telah penuh terisi.
Kondisi ini dinilai tidak ideal, terutama bagi penumpang yang membawa anak kecil atau membawa barang bawaan dalam jumlah banyak. Albert Akolo, penumpang yang menyampaikan keluhan tersebut, menegaskan bahwa kepadatan kerap terjadi pada jam-jam tertentu dan perlu diantisipasi oleh operator.
Albert menilai standar pelayanan yang diterima tidak sebanding dengan biaya tiket yang telah dibayarkan. Ia berharap manajemen ASDP Cabang Ambon turun langsung ke lapangan untuk melihat realitas yang dialami pengguna jasa lintas penyeberangan yang menghubungkan Pulau Seram dan Pulau Ambon ini.
"Kami berharap ASDP Cabang Ambon turun langsung melihat kondisi penumpang. Jangan sampai masyarakat sudah membayar untuk mendapatkan pelayanan, tetapi kenyamanan di atas kapal tidak diperhatikan," keluhnya.
Keluhan ini muncul di tengah tingginya mobilitas warga yang melintas antara Hunimua dan Waipirit. Keterbatasan ruang dan tempat duduk di dalam kapal menjadi persoalan klasik yang kembali terulang, terutama saat volume penumpang meningkat pada waktu-waktu tertentu.
Albert meminta agar evaluasi tidak hanya berhenti pada keluhan, tetapi diikuti langkah konkret untuk mengatur kapasitas. Menurutnya, operator perlu mempertimbangkan penambahan armada atau rekayasa jadwal agar kepadatan tidak terus berulang.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ambon belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan penumpang tersebut. Namun, desakan untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik di sektor transportasi laut ini terus menguat, khususnya dari warga yang setiap hari menggantungkan mobilitasnya pada rute Hunimua–Waipirit.
Rute ini merupakan jalur vital yang menghubungkan ibu kota provinsi dengan wilayah di Pulau Seram, sehingga kelancaran dan kenyamanan penyeberangan menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat. Pertanyaan mengenai kesiapan ASDP dalam mengantisipasi lonjakan penumpang kini menjadi sorotan utama di tengah evaluasi layanan yang berkelanjutan.