MALUKU — Para kreator "Lanterns" mengambil keputusan berani: mengakhiri episode perdana dengan tragedi. Hal Jordan ditemukan tewas di tribun stadion oleh John Stewart dan sheriff setempat, Kerry (Kelly MacDonald), di tengah musim dingin Nebraska yang brutal pada 2026. Kematian Hal tidak menjadi akhir cerita, melainkan titik awal investigasi besar.
Garapan James Gunn dan Peter Safran ini tidak menampilkan Green Lantern sebagai tokoh kebal. "Lanterns" justru memakai struktur non-linear, dimulai dari adegan pembuka tahun 1996 yang memperlihatkan keterkaitan John Stewart muda dengan cincin Green Lantern. Cerita kemudian melompat ke 2016, menampilkan dinamika awal antara Hal sebagai mentor yang enggan dan John sebagai rekan yang bersemangat.
Ketegangan keduanya memuncak saat tiba di Nebraska untuk menyelidiki kematian misterius yang dicurigai Hal sebagai ulah alien. "Ada momen di tribun ketika kami hampir saja beradu fisik. Semua yang ada dalam diri John ingin melawan saat itu, tapi dia tidak bisa dan Hal tahu itu," ujar Aaron Pierre. Kyle Chandler menimpali dengan nada bercanda, "Seperti mengolok-olok hewan di kebun binatang di balik kaca. Dia tidak bisa menyentuhku, tapi aku bisa melakukan apa pun yang kumau!"
Damon Lindelof, co-creator "Lanterns" yang sebelumnya sukses dengan "Watchmen", menegaskan bahwa kematian Hal bukan sekadar kejutan murahan. Premis awal serial ini memang dirancang sebagai misteri pembunuhan yang dipecahkan oleh Green Lantern. "Semakin kami berdiskusi, semakin kami kembali ke pertanyaan, 'Bagaimana jika salah satu dari mereka yang terbunuh?'" ungkap Lindelof.
Bagi Lindelof, ini adalah cara untuk memberikan konsekuensi emosional yang nyata di genre superhero. "Kami tidak ingin membuat cerita di mana penonton menonton delapan episode petualangan dan di akhir hanya ada petualangan berikutnya. Ini adalah kisah tentang pria yang tidak mau melepaskan cincinnya, dan pria yang menginginkan cincin itu," tegasnya.
Membaca naskah kematian karakternya, Kyle Chandler justru bersorak. "Bukan hanya karena jalan ceritanya, tapi ini cara yang hebat untuk mengakhiri episode pertama," katanya. Namun, bagi Kelly MacDonald, momen menemukan mayat Hal adalah adegan yang berat. "Memikirkan apa yang akan terjadi saja sudah membuatku tidak sabar. Itu cukup emosional, melihatnya seperti itu," kenang aktris yang mengaku terinspirasi dari akting Frances McDormand di "Fargo" untuk perannya sebagai sheriff.
Bagi Chandler, yang namanya melekat lewat serial "Friday Night Lights", syuting di tribun stadion memunculkan memori tersendiri. "Tidak diragukan lagi ketika saya berjalan ke sana, banyak pikiran dan emosi berbeda yang melintas," akunya, meski ia tidak pernah bertanya kepada penulis apakah referensi itu disengaja.
Kematian Hal Jordan di awal seri memastikan penonton akan melihat aksi Green Lantern melalui kilas balik. Namun, misteri siapa dalang di balik pembunuhan itu menjadi benang merah utama. Aaron Pierre percaya model rilis mingguan akan memicu diskusi seru di kalangan penggemar. "Mereka meninggalkanmu dengan perasaan—'ingin' saja rasanya kurang kuat. Ini kebutuhan untuk tahu apa yang terjadi selanjutnya," ujarnya. "Saya membayangkan akan ada beberapa pekan di mana penonton, dengan cara yang sehat dan menyenangkan, merasa kesal karena tidak tahu kelanjutannya."
Dengan berani membunuh karakter utamanya di episode pertama, "Lanterns" menegaskan diri sebagai tontonan superhero yang berbeda—lebih gelap, lebih misterius, dan penuh kejutan. Serial ini menjadi salah satu fondasi awal fase baru DCU yang lebih terintegrasi di bawah arahan James Gunn.