MALUKU — Chairman sekaligus CEO LG Corp, Kwang Mo Koo, bertemu langsung dengan CEO NVIDIA Jensen Huang di markas NVIDIA, Santa Clara, California. Keduanya menandatangani nota kesepahaman untuk memperluas kolaborasi di bidang AI, mencakup pengembangan robot, AI Factory, dan kendaraan berbasis AI. Kesepakatan ini menjadi fondasi bagi LG untuk membangun lini bisnis baru di luar elektronik konsumen.
Robot humanoid garapan LG akan menggunakan NVIDIA Jetson Thor sebagai otak komputasi utama. Chip ini menawarkan kemampuan pemrosesan hingga 2.070 TFLOPS, cukup untuk menjalankan model AI secara langsung di perangkat tanpa bergantung pada server eksternal. Untuk kemampuan penalaran, LG mengandalkan model Isaac GR00T yang memungkinkan robot memahami lingkungan sekitar dan merespons situasi secara kontekstual.
Dengan konfigurasi ini, robot tidak sekadar mengeksekusi perintah sederhana. Ia dirancang untuk mengambil keputusan sendiri berdasarkan kondisi nyata di lapangan, seperti menghindari hambatan atau menyesuaikan gerakan saat berinteraksi dengan manusia.
Sebelum humanoid debut, LG akan lebih dulu menerjunkan CLOiD, robot beroda yang dirancang untuk lingkungan industri. Uji coba pertama akan dilakukan di lini produksi mesin cuci LG di Tennessee, Amerika Serikat, pada akhir tahun ini. Pabrik tersebut berfungsi sebagai arena pelatihan untuk mengukur kemampuan robot dalam menghadapi skenario kerja nyata.
Jika performanya memenuhi standar, CLOiD akan diperluas ke fasilitas produksi LG lainnya secara global. Ambisinya tidak berhenti di pabrik—LG memproyeksikan robot ini bisa digunakan di ruang komersial hingga lingkungan rumah tangga setelah kemampuannya matang.
LG tidak hanya fokus pada perangkat keras. Perusahaan menargetkan reference AI data center berbasis NVIDIA Vera Rubin siap beroperasi pada paruh pertama 2027. Pengalaman dari fasilitas ini akan menjadi dasar pembangunan LG AI Factory di Cheonan, Chungcheongnam-do, Korea Selatan, yang ditargetkan beroperasi pada paruh pertama 2028 dengan kapasitas komputasi 80 MW.
AI Factory ini akan digunakan untuk melatih model AI milik LG sendiri yang menjadi "otak" bagi seluruh lini robot perusahaan. LG juga berencana menjadikan fasilitas ini sebagai paket turnkey bagi perusahaan lain yang ingin membangun data center AI berkapasitas besar. Proyek ini melibatkan strategi One LG, menggabungkan komponen dari LG Energy Solution, LG Innotek, dan LG Electronics—mulai dari baterai, sensor, hingga aktuator.
Ambisi LG tidak berhenti di robot. Perusahaan akan mengembangkan generasi berikutnya dari AI-Defined Vehicle menggunakan platform NVIDIA Drive Hyperion. Teknologi ini akan diintegrasikan ke sistem in-vehicle infotainment (IVI) buatan LG, menargetkan produsen mobil global yang membutuhkan hardware dengan kemampuan autonomous driving sekaligus layanan AI di dalam kabin.
Langkah ini menempatkan LG pada posisi yang lebih strategis di rantai pasok otomotif—bukan sekadar pemasok layar atau sistem hiburan, tetapi juga bagian inti dari sistem komputasi kendaraan masa depan. Persaingan di area ini kian ketat; Samsung melalui Robotics eXperience (RX) division juga tengah mengembangkan humanoid robot dan robot pabrik, sementara bisnis otomotifnya diperkuat lewat Harman.
Kwang Mo Koo menegaskan LG ingin mempercepat penyebaran AI dengan membangun referensi teknologi yang bisa menjadi standar industri. Jensen Huang menilai kombinasi pengalaman LG di bidang engineering dan manufaktur dengan teknologi NVIDIA dapat mempercepat hadirnya generasi baru robot, AI Factory, hingga kendaraan otonom.
Proyek-proyek ini menunjukkan LG sedang membangun ekosistem yang saling terhubung: model AI yang dilatih di data center sendiri, robot yang beroperasi di pabrik dan rumah, hingga kendaraan yang mengandalkan komputasi canggih. Pertanyaannya kini, apakah strategi ini akan membuat LG menjadi pemain kunci dalam gelombang Physical AI—atau sekadar menambah daftar panjang ambisi korporasi yang belum terealisasi. Yang jelas, target 2027 akan menjadi ujian pertama.