MALUKU — Angka itu bukan sekadar statistik pameran. 3.290 Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) dalam satu ajang pameran adalah rekor tertinggi Wuling dalam lima tahun terakhir, bahkan jika dijumlahkan satu per satu. Penyebabnya tunggal: Aira ev, city car listrik yang harganya tembus di bawah Rp160 juta.
Kehadiran Aira ev di GIIAS 2026 seperti déjà vu, tapi dengan arah yang berlawanan. Pada 2022, Wuling membuka gerbang pasar listrik dengan Air ev seharga Rp238 juta. Kini, Aira ev datang dengan banderol lebih murah, fitur lebih lengkap, dan langsung menguasai segmen entry-level yang selama ini hanya diisi oleh mobil bensin LCGC.
Angka Rp155 juta untuk varian Standard Range dan Rp175 juta untuk Long Range (OTR Jakarta) jelas menjadi daya tarik utama. Dengan selisih harga yang tipis dari mobil LCGC bermesin bensin, Wuling menawarkan biaya operasional yang jauh lebih rendah.
Klaim biaya energi sekitar Rp151 per kilometer memang perlu diuji dalam kondisi lalu lintas nyata, tapi secara matematis, angka itu 3-4 kali lebih hemat dibanding mobil bensin di kelas yang sama. Untuk pengguna harian dengan jarak tempuh 40 km, penghematan bulanan bisa mencapai ratusan ribu rupiah.
Dengan panjang 3.268 mm, lebar 1.550 mm, dan wheelbase 2.190 mm, Aira ev dirancang untuk mobilitas urban yang padat. Radius putar 4,5 meter membuatnya mudah bermanuver di gang sempit atau saat parkir paralel di pinggir jalan.
Dua pilihan jarak tempuh ditawarkan: 205 km (Standard Range) dan 301 km (Long Range) berdasarkan siklus CLTC. Untuk konteks pemakaian dalam kota Indonesia, angka 205 km sudah cukup untuk pemakaian 2-3 hari tanpa charging, sementara varian Long Range memberi ruang napas lebih untuk perjalanan antar kota.
Wuling tidak memangkas aspek keamanan demi mencapai harga Rp155 juta. Struktur bodi memakai High-Strength Steel hingga 60 persen, dan baterai dilindungi sistem Magic Battery Pro yang diklaim tahan air dan benturan.
Daftar fitur standarnya juga patut diperhatikan:
Dalam kelas harga ini, kelengkapan tersebut jarang ditemukan dalam satu paket, bahkan pada mobil bensin sekalipun.
Meski angka penjualan dan spesifikasinya impresif, ada beberapa catatan yang perlu dipertimbangkan. Pertama, ukuran baterai dan waktu charging belum diumumkan secara detail, dan ini krusial untuk pengguna yang tidak punya home charging. Kedua, jaringan layanan purna jual Wuling untuk baterai EV di luar kota besar masih perlu diverifikasi.
Ketiga, nilai jual kembali (resale value) Aira ev belum teruji. Air ev generasi pertama mengalami depresiasi yang cukup dalam di pasar mobil bekas. Namun, dengan harga awal yang lebih rendah, risiko depresiasi nominalnya juga lebih kecil.
Aira ev adalah produk yang tepat di waktu yang tepat. Untuk pengguna yang 90 persen waktunya berkutat di dalam kota, punya akses charging di rumah, dan mencari kendaraan kedua yang hemat, mobil ini adalah pilihan yang sangat rasional.
Namun, untuk mereka yang sering melakukan perjalanan antar kota tanpa infrastruktur charging yang jelas, atau keluarga yang butuh ruang kabin lebih luas, Aira ev mungkin bukan jawabannya. Rekor SPK di GIIAS 2026 membuktikan pasar merespons positif, tapi ujian sebenarnya adalah pengalaman pemakaian harian setelah euforia pameran usai.