MALUKU — Sebuah langkah segar dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UMSIDA di Desa Martopuro, Kecamatan Purwosari. Pada Rabu, 5 Agustus 2026, mereka menggelar program Pendampingan Posyandu yang tidak hanya fokus pada kesehatan balita, tetapi juga merambah ke edukasi kesiapan anak memasuki jenjang Kelompok Bermain (KB) dan PAUD. Kegiatan ini berlangsung di Posyandu Dusun Puntir dan melibatkan kader serta orang tua secara langsung.
Selama ini, banyak orang tua menganggap anak cukup mulai bersekolah saat SD. Anggapan ini coba diluruskan oleh tim KKN. Mereka melihat potensi besar Posyandu sebagai pusat informasi tumbuh kembang, bukan hanya layanan kesehatan. Karena itu, program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat akan panduan pendidikan anak.
Erica Dwi Secilia, koordinator tim Kesehatan, menjelaskan alasan penggabungan dua aspek penting ini. "Posyandu tidak hanya menjadi tempat pemantauan kesehatan anak, tetapi juga memiliki potensi sebagai ruang edukasi bagi orang tua," ujarnya. Timnya berharap manfaat program bisa dirasakan langsung dan berkelanjutan oleh warga.
Keterlibatan mahasiswa dimulai dari proses administrasi. Mereka membantu registrasi peserta, penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, hingga pencatatan hasil pemeriksaan. Dengan begitu, para kader Posyandu bisa lebih fokus memberikan layanan kesehatan yang optimal kepada balita.
Setelah sesi pemeriksaan selesai, giliran orang tua yang mendapat perhatian. Mahasiswa menyampaikan edukasi menggunakan poster visual yang mudah dipahami. Materinya mencakup usia ideal anak masuk layanan pendidikan, manfaat PAUD, dan pentingnya stimulasi kognitif, motorik, bahasa, serta sosial-emosional sejak dini.
Program ini memuncak dengan penyerahan Alat Permainan Edukatif (APE) kepada Posyandu Dusun Puntir. APE ini dirancang untuk menjadi media bermain yang merangsang kreativitas, kemampuan berpikir, dan koordinasi motorik anak. Keberadaannya diharapkan menjadi sarana stimulasi yang bisa dipakai kader pada setiap kegiatan Posyandu ke depan.
Ibu Khodijah, Ketua Kader Posyandu Dusun Puntir, menyambut baik inisiatif ini. "Poster yang digunakan mudah dipahami, sedangkan APE yang diberikan akan sangat berguna untuk menunjang kegiatan Posyandu ke depannya," tuturnya. Apresiasi juga datang dari Rini, salah satu orang tua peserta, yang mengaku baru memahami pentingnya stimulasi sejak dini agar anak lebih siap belajar dan bersosialisasi.
Keunggulan program ini terletak pada integrasi tiga aspek krusial: kesehatan, pendidikan, dan stimulasi belajar. Orang tua tidak perlu datang ke tempat berbeda untuk mendapatkan layanan kesehatan dan konsultasi pendidikan anak. Semua bisa didapatkan dalam satu kunjungan Posyandu.
Peran mahasiswa KKN di sini adalah sebagai fasilitator dan mitra masyarakat. Mereka mengidentifikasi kebutuhan, menyusun materi edukasi dari sumber relevan, mendesain poster, hingga mendampingi pelayanan langsung. Kolaborasi antara mahasiswa, kader, dan pemerintah desa ini menjadi contoh nyata pengabdian yang berdampak.
Dengan adanya program seperti ini, kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini diharapkan terus meningkat. Posyandu pun kini punya peran baru: menjadi garda depan kesiapan anak Indonesia memasuki dunia sekolah.