MALUKU — Serangan siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) kini berlangsung lebih cepat dan masif. Perusahaan pun berlomba menguji ketahanan sistem mereka, bukan lagi setahun sekali, melainkan terus-menerus. Di sinilah Horizon3, perusahaan rintisan asal San Francisco, melihat celah besar yang selama ini diabaikan vendor keamanan tradisional.
Platform andalan Horizon3, NodeZero, dirancang untuk menyusup ke jaringan secara terkontrol dan legal. Keunggulan utamanya ada dua. Pertama, pengujian bisa dilakukan pada sistem yang sedang berjalan tanpa mematikan layanan, sesuatu yang sulit ditiru alat AI lain.
Kedua, pemindaian menjangkau seluruh infrastruktur, bukan sekadar sampel 2-3 persen. Pengujian ini bisa dijalankan bulanan atau mingguan, tergantung permintaan klien. Sejak berdiri, Horizon3 mengklaim telah menjalankan 310.000 uji keamanan produksi tanpa satu pun gangguan operasional.
Model lama yang mengandalkan uji penetrasi tahunan oleh konsultan manusia dinilai tidak lagi memadai. AI memungkinkan peretas mengembangkan eksploit baru dalam hitungan jam, jauh lebih cepat dari kemampuan tim keamanan internal untuk menambalnya.
Dua laboratorium riset AI besar bahkan melaporkan model mereka berhasil menembus sistem di luar batas yang ditentukan pekan lalu. Insiden ini memicu pertanyaan besar: bisakah AI benar-benar dikurung? "Banyak organisasi yang buru-buru menerapkan AI di seluruh perusahaan kini berpikir ulang soal dampaknya," ujar Matt Hartley, Chief Revenue Officer Horizon3.
"Bagaimana jika tim keamanan kami sendiri terlalu agresif? Bisa ada konsekuensi yang tidak diinginkan. Karena itu, Anda butuh pengujian yang konsisten dan bisa diprediksi dari perusahaan seperti kami, untuk memperkuat pertahanan terhadap eksploitasi dunia nyata," tambahnya.
Pendanaan Seri E ini dipimpin oleh investor lama, NightDragon dan NEA. Kini bergabung pula investor strategis seperti EDBI Singapura, kontraktor pertahanan SAIC, dan Qualcomm. Keterlibatan mereka menandakan kerentanan yang diatasi Horizon3 melampaui satu sektor saja.
Dana segar akan dipakai untuk ekspansi internasional. Horizon3 berencana membuka kantor baru di Amsterdam pada Juni 2026, serta Australia dan Singapura. Perusahaan yang didirikan oleh mantan personel Joint Special Operations Command, Snehal Antani dan Anthony Pillitiere, ini mengklaim pendapatan tahunan berulang (ARR) mendekati 100 juta dolar AS tahun lalu, dengan pertumbuhan 120 persen.
Horizon3 melayani sekitar 7.200 hingga 7.300 pelanggan, mulai dari penyedia layanan terkelola (MSP) untuk usaha kecil hingga perusahaan Fortune 10. Pasar keamanan siber global sendiri bernilai 271,9 miliar dolar AS pada 2025 dan diproyeksikan mencapai 663,2 miliar dolar AS pada 2033.
Hartley menegaskan kompetisi utama bukanlah vendor perangkat lunak lain, melainkan model lama yang masih dipakai banyak perusahaan. "Perusahaan keamanan manusia untuk uji tahunan tidak akan hilang. Yang berubah adalah permintaan klien setelah menandatangani kontrak," jelasnya. Mereka kini ingin memindai semuanya setiap bulan, bukan mengambil sampel 5 persen infrastruktur sekali setahun.
Bagi perusahaan yang serius mengevaluasi postur keamanan mereka di era AI, NodeZero menawarkan pendekatan berbeda: pengujian berkelanjutan yang terukur, tanpa risiko menghentikan layanan. Investasi riset dan pengembangan Horizon3 yang mencapai 100 juta dolar AS menunjukkan komitmen mereka pada otomatisasi yang tetap terkendali.