AMBON — Rapat koordinasi yang difasilitasi Dinas Pertanian Provinsi Maluku berhasil memetakan sejumlah persoalan teknis administrasi dalam program hilirisasi kelapa di PTPN I Regional 8, Liang Awaiya. Pertemuan yang digelar di Ruang Rapat Lantai 3 Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Jumat (31/7/2026) itu dipimpin langsung oleh Asisten II Setda Maluku, Kasrul Selang, ST., MT.
Rakor ini merupakan tindak lanjut dari seremoni groundbreaking hilirisasi kelapa dan pala yang telah digelar pada April 2026 lalu. Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Dr. Ilham Tauda, SP., M.Si menegaskan bahwa inti pertemuan adalah memastikan program berjalan mulus di lapangan.
Dr. Tauda mengungkapkan, dari hasil pembahasan ditemukan beberapa kendala yang bersifat teknis administrasi. Masukan dari seluruh peserta rapat akan diramu menjadi laporan resmi kepada Gubernur Maluku.
"Hasil rapat ini akan kami laporkan kepada Gubernur Maluku, sekaligus meminta arahan untuk dibentuk Satgas atau Tim Terpadu yang fungsinya memastikan program hilirisasi ini bisa cepat berjalan tanpa halangan dan hambatan," ujarnya.
Dari sisi pasokan bahan baku, Dr. Tauda menyebut potensi buah kelapa di Maluku Tengah sangat besar. Berdasarkan perhitungan Dinas Pertanian Maluku, kebutuhan pabrik sebesar 300 ribu butir per hari masih bisa dipenuhi, bahkan jika dinaikkan menjadi 600 ribu butir per hari.
Perhitungan itu sudah termasuk pasokan dari kebun inti PTPN. "Kalau dinaikkan lagi menjadi 600 ribu, hitungan ini masih bisa untuk memenuhi kebutuhan bahan baku di sana," jelas Dr. Tauda.
Program ini juga mendapat angin segar dari Kementerian Pertanian. Dukungan diberikan melalui pengembangan kelapa di Maluku Tengah serta pendampingan hilirisasi pala dari sisi hulu.
Dr. Tauda berpesan kepada petani kelapa dan pala di Maluku untuk terus meningkatkan kualitas hasil panen. Ia menekankan pentingnya perbaikan sistem budidaya, pengolahan, dan penanganan pasca panen agar produk memenuhi standar industri hilirisasi.
"Tetap lakukan pengembangan, terutama memberikan hasil penanganan mulai dari sistem budidaya, pengolahan, penanganan pasca panen yang baik sehingga hasilnya berkualitas, sesuai dengan syarat yang diinginkan oleh industri hilirisasi," imbaunya.
Rakor tersebut turut dihadiri Manager PTPN I Regional 8, Kepala Dinas Perkebunan Maluku Tengah, perwakilan Balai Besar Perbenihan Proteksi Tanaman Perkebunan Kementan, Tim Ahli Gubernur Maluku, Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setda Maluku, serta perwakilan Dinas PM-PTSP dan BRMP Maluku.