MALUKU — Kota Yogyakarta, bersama DKI Jakarta dan Bali, menjadi provinsi pionir perluasan program imunisasi Human Papillomavirus (HPV) untuk anak laki-laki. Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta memastikan program ini akan berjalan serentak pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Agustus 2026. Keputusan ini merupakan bagian dari Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023-2030.
Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu, menjelaskan skema sasaran tahun 2026 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Untuk anak perempuan, sasarannya tetap: siswa kelas 5 SD atau sederajat (usia 11 tahun), serta imunisasi kejar untuk kelas 6 SD (12 tahun) dan kelas 9 SMP (15 tahun) yang belum pernah divaksin HPV.
Yang baru adalah pelibatan anak laki-laki. Mereka akan mendapatkan vaksin HPV secara khusus di usia 11 tahun atau kelas 5 SD. Program ini baru berlaku di tiga provinsi: DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali.
Banyak orangtua mungkin bertanya, bukankah HPV penyebab kanker serviks yang hanya menyerang perempuan? dr. Endang menjelaskan, virus HPV juga menyebabkan kanker lain seperti kanker penis, kanker anus, dan kanker orofaring (kepala dan leher) yang bisa terjadi pada laki-laki.
“Pria dapat bertindak sebagai pembawa yang menularkan virus HPV (carrier) kepada wanita,” terang dr. Endang. Jadi, vaksinasi pada anak laki-laki melindungi dirinya sendiri sekaligus memutus rantai penularan ke pasangannya di masa depan.
Selain itu, pemberian vaksin pada anak laki-laki juga bertujuan menghilangkan stigma bahwa vaksinasi ini “khusus perempuan” yang sering dikaitkan dengan isu hubungan seksual. Vaksin HPV adalah perlindungan kesehatan, bukan stigma.
Pemilihan usia anak-anak bukan tanpa alasan. Dibandingkan remaja lanjut dan dewasa, anak usia 11 tahun membentuk respons imun yang jauh lebih kokoh terhadap vaksin. Ini membuat perlindungan lebih optimal dan bertahan lama.
dr. Endang juga menegaskan, infeksi alami virus HPV tidak efektif membentuk antibodi karena virus ini tidak masuk ke sirkulasi darah. Artinya, tubuh tidak bisa melawan infeksi berikutnya tanpa vaksin. Vaksin HPV memberikan proteksi yang baik dan persisten.
dr. Endang dengan tegas membantah anggapan bahwa vaksin HPV menyebabkan kemandulan. “Justru sebaliknya, vaksin HPV dapat mencegah infeksi virus HPV yang berpotensi menyebabkan kanker dan kutil kelamin, di mana hal tersebut bisa berdampak jauh lebih besar terhadap kesehatan reproduksi serta kualitas hidup seseorang,” paparnya.
Banyak penelitian telah membuktikan tidak ada hubungan antara vaksin HPV dengan kemandulan. Vaksin ini justru melindungi organ reproduksi dari penyakit serius di masa depan.
Pelaksanaan imunisasi tidak hanya terbatas di sekolah formal. Dinkes Kota Yogyakarta memastikan tempat pelaksanaan mencakup pondok pesantren, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), hingga Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA).
“Kami ingin memastikan seluruh sasaran anak, baik yang menempuh pendidikan di sekolah formal maupun nonformal dan informal, dapat terjangkau dengan baik,” ungkap dr. Endang. Jadi, tidak perlu khawatir jika anak tidak bersekolah di SD negeri atau swasta biasa.
Bagi ibu di Yogyakarta, Jakarta, dan Bali yang memiliki anak laki-laki kelas 5 SD, persiapkan diri menyambut BIAS Agustus 2026. Vaksin ini gratis dan menjadi langkah nyata melindungi generasi dari kanker di masa depan.