AMBON — Jasad Bung Ongky boleh saja beristirahat dalam damai, tetapi cara ia memanusiakan manusia menolak ikut terkubur ke liang lahat. Kenangan tentang kepemimpinan yang melayani dari Pemimpin Harian Pagi Siwalima itu tetap hidup, menjadi pelajaran berharga bagi mereka yang pernah bekerja di bawah naungannya.
Kisah ini bermula pada malam kelabu di tahun 2010. KM Marsegu perlahan menjauh dari Pelabuhan Bula, Seram Bagian Timur. Di atas kapal yang penuh sesak, M. Jaya Barends, yang kala itu masih berstatus jurnalis magang di Harian Pagi Siwalima dan baru sebulan mencecap dunia pers, duduk lesu. Pikiran berkecamuk karena ia terlambat dari rombongan.
"Pasti kena marah sudah ini. Terlambat dari rombongan," batin Jaya cemas. Namun, seorang wanita paruh baya memecah lamunannya. "Abang, mari duduk di sini," ajaknya sambil menggelar tikar, "Di dalam kapal su penuh sesak." Wanita itu mempersilakan Jaya duduk di samping kerabat prianya.
Di tengah guncangan kapal, Jaya hanya bisa menulis status singkat di Facebook: 'malam kelabu'. Rasa kantuk berat akhirnya meluruskannya di atas lantai dek. Keesokan paginya, pukul 08.30 WIT, getar gawai di dalam ransel menyentak kesadarannya.
Begitu layar digeser, sebuah suara berat namun teramat lembut menyapa di ujung telepon. Suara yang sama sekali tidak membawa amarah. "Jaya, kenapa?" tanya Bapa Ongky, panggilan akrab untuk Ongky M. Louhenapessy.
"Seng apa-apa, Bapa Ongky. Cuma beta terlambat dari rombongan, jadi terpaksa beta naik kapal perintis," jawab Jaya terbata-bata. "Oh iya, nanti Bapa Ongky telepon MK (Mukti Keliobas) e. Bae-bae di jalan…" Percakapan itu terputus, meninggalkan rasa hangat yang mengikis kecemasan.
Kapal reot itu akhirnya merapat di Pelabuhan Geser. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, Jaya memilih turun di pulau ini dan melanjutkan perjalanan ke Wakate menggunakan speedboat. Di atas kapal cepat itu, ombak bertubi-tubi menghantam lambung, namun sang juru mudi berdiri tenang, matanya jeli membaca arah angin.
Kisah ini ditulis oleh M. Jaya Barends, eks jurnalis Harian Pagi Siwalima, sebagai pengingat bahwa di balik hiruk-pikuk berita dan tekanan tenggat, ada sosok pemimpin yang memilih untuk mengerti daripada marah. Bagi kru Siwalima, Bapa Ongky bukan hanya pemimpin redaksi, tetapi seorang mentor yang mengajarkan bahwa kebaikan adalah investasi yang tak lekang oleh waktu.
In memoriam, Bapa Ongky Louhenapessy. Kebaikanmu tetap hidup, merawat ingatan tentang bagaimana seorang pemimpin sejati seharusnya bersikap.