Perang Iran-AS Bikin Produksi Minyak Pertamina di Irak Anjlok 100.000 Barel Per Hari

Penulis: Sutomo  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 14:23:10 WIB
Produksi minyak Pertamina di ladang West Qurna, Irak, turun 100.000 barel per hari akibat konflik Iran-AS.

MALUKU — Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, mengungkapkan bahwa beberapa hari setelah perang meletus, pemerintah Irak memerintahkan penghentian seluruh kegiatan di lapangan West Qurna. "Kami harus mematuhi arahan otoritas setempat demi keselamatan seluruh pekerja," ujarnya dalam pernyataan resmi, Selasa (2/6/2026).

Lapangan West Qurna merupakan salah satu ladang minyak terbesar di Irak yang dikelola Pertamina. Sebelum konflik, kontribusinya mencapai 100.000 barel per hari — setara dengan sekitar 10 persen dari total produksi minyak nasional Indonesia yang sekitar 1 juta barel per hari.

Dampak Langsung ke Penerimaan Negara

Dengan kurs Rp 16.000 per dolar AS dan asumsi harga minyak US$ 70 per barel, potensi kerugian pendapatan kotor mencapai US$ 7 juta per hari atau sekitar Rp 112 miliar. Angka ini belum memperhitungkan biaya operasional yang tetap berjalan meski produksi terhenti.

PHE kini fokus mengevakuasi pekerja Indonesia yang masih berada di lokasi. Awang menambahkan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI di Baghdad untuk memantau situasi.

Belum Ada Kepastian Kapan Operasi Kembali

Hingga berita ini ditulis, belum ada jadwal pasti kapan lapangan West Qurna bisa beroperasi normal. Kondisi keamanan di Irak masih belum stabil, dan pemerintah setempat belum mencabut status darurat di wilayah sekitar ladang minyak.

Pertamina sendiri memiliki beberapa aset hulu migas di luar negeri selain Irak, termasuk di Aljazair dan Malaysia. Namun, West Qurna adalah kontributor terbesar dari portofolio internasional perusahaan.

Kehilangan produksi 100.000 barel per hari ini menjadi pukulan berat bagi upaya Pertamina mengejar target lifting minyak nasional di tengah tekanan global akibat konflik Timur Tengah. Pasar minyak dunia pun diprediksi akan semakin volatil dalam beberapa pekan ke depan.

Reporter: Sutomo
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top