Dusun Thekelan Rayakan Waisak, Tiga Umat Beragama Duduk Bersila dalam Satu Rupa

Penulis: Fajar  •  Minggu, 31 Mei 2026 | 20:29:01 WIB
Umat Buddha, Islam, dan Kristen duduk bersama merayakan Waisak di Dusun Thekelan, Maluku.

MALUKU — Suasana teduh menyelimuti Dusun Thekelan saat umat Buddha merayakan Waisak. Namun, yang membuat momen ini berbeda dari perayaan serupa di tempat lain adalah kehadiran jemaah dari dua agama lain. Umat Islam dan Kristen duduk berdampingan, bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari perayaan.

Bukan Sekadar Toleransi, Tapi Kebersamaan yang Terjalin Sejak Lama

Warga setempat mengaku tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun. Tidak ada sekat yang dibangun saat perayaan keagamaan tiba. Mereka saling membantu menyiapkan konsumsi, mendirikan tenda, hingga mengatur lalu lintas pejalan kaki menuju lokasi peribadatan.

“Kami tidak pernah membeda-bedakan. Kalau tetangga punya hajat, ya kita bantu. Begitu juga saat Waisak,” ujar salah satu tokoh pemuda setempat.

Waisak Jadi Titik Temu, Bukan Perbedaan

Di tengah narasi politik identitas yang kerap memanas menjelang pemilu, praktik di Thekelan menjadi antitesis. Perbedaan keyakinan tidak lantas menjadi jarak sosial. Justru, perayaan keagamaan menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas antarwarga.

Bagi warga Dusun Thekelan, kerukunan bukanlah proyek pemerintah atau sekadar jargon. Ia adalah praktik hidup yang dirawat setiap hari. Ketika umat Buddha bersembahyang, umat Islam dan Kristen menjaga keamanan lingkungan. Ketika Idul Fitri tiba, giliran umat Buddha yang ikut mengatur parkir dan menyambut tamu.

Dari Dusun ke Publik: Pelajaran tentang Merawat Kebhinekaan

Perayaan Waisak di Dusun Thekelan menjadi potret kecil bagaimana Indonesia seharusnya berjalan. Tanpa perlu instruksi dari pusat, warga di tingkat desa sudah mempraktikkan apa yang seringkali hanya menjadi wacana di ruang seminar.

Momen ini juga mengingatkan bahwa kerukunan bukan berarti semua orang harus sama keyakinannya. Justru, ia adalah kemampuan untuk hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan. Dan di Thekelan, hal itu terjadi begitu saja—tanpa drama, tanpa paksaan.

Reporter: Fajar
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top