LANGGUR — Peringatan dini kekeringan mulai disuarakan BMKG untuk wilayah Kepulauan Kei. Fenomena El Nino diprediksi terjadi pada Juli hingga November 2026, yang berpotensi membuat musim kemarau di Maluku Tenggara lebih panjang dari biasanya.
Kepala Stasiun Klimatologi Tual dan Maluku Tenggara, Oktovianus Jootje Zadrak, menjelaskan bahwa Kepulauan Kei biasanya memasuki musim kemarau pada Agustus hingga Oktober. Dengan adanya El Nino, periode kemarau bisa datang lebih awal dan berlangsung lebih lama.
Meskipun fenomena El Nino tahun ini tidak tergolong ekstrem, Oktovianus menegaskan dampaknya tetap perlu diwaspadai. Wilayah yang secara klimatologis rentan kekeringan, seperti beberapa kecamatan di Kepulauan Kei, menjadi titik paling rawan.
"Masyarakat diharapkan bijak menggunakan air dan menyiapkan cadangan air bersih yang memadai," imbaunya, Senin (18/5/2026).
BMKG mengimbau warga untuk mulai menghemat penggunaan air bersih sejak sekarang. Menyiapkan tempat penampungan air seperti tandon atau drum juga disarankan sebagai langkah antisipasi dini.
Imbauan ini disampaikan menyusul prediksi bahwa kemarau panjang berisiko memicu krisis air bersih jika tidak diantisipasi sejak awal. Pemerintah daerah setempat diharapkan ikut bergerak menyosialisasikan langkah-langkah mitigasi kepada masyarakat di tingkat kampung dan kelurahan.
Selain menghemat air, warga diminta memeriksa kondisi sumur dan sumber air tradisional di lingkungan masing-masing. Bagi yang memiliki akses ke air tanah, disarankan untuk mulai memompa dan menyimpan cadangan sebelum debit air menurun drastis.
Oktovianus juga mengingatkan agar warga tidak menunggu hingga kemarau tiba untuk bertindak. "Persiapan sejak dini akan mengurangi risiko krisis air bersih saat puncak kemarau nanti," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kekeringan signifikan di Kepulauan Kei. Namun, BMKG terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan iklim di wilayah Maluku Tenggara.