LANGGUR — Panitia MPP XXXVII AMGPM menyiapkan penanaman bibit tanaman buah sebagai salah satu agenda di luar persidangan organisasi. Ketua Panitia Pelaksana MPP XXXVII AMGPM, Benhur George Watubun, menyampaikan rencana itu dalam laporan panitia saat pembukaan kegiatan di Gereja Sumber Kasih, Ohoi Ohoira, Minggu (18/10/2026).
Menurut Benhur, penyelenggaraan MPP XXXVII tidak hanya diarahkan pada persidangan dan konsolidasi organisasi. Rangkaian kegiatan juga mencakup aksi yang memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Penanaman pohon produktif di Ohoi Ohoira diarahkan pada jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomi. AMGPM menilai bibit buah bisa menjadi sumber hasil produktif apabila dirawat dan dikelola secara berkelanjutan.
Selain memberi manfaat lingkungan, tanaman buah disebut dapat mendorong pemanfaatan lahan kosong di sekitar permukiman warga. Kepedulian kader terhadap pelestarian alam juga menjadi sasaran kegiatan itu.
Persiapan MPP XXXVII dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan sejumlah pemangku kepentingan. Benhur menyebut panitia telah melakukan audiensi sebagai bentuk silaturahmi sekaligus permohonan dukungan.
“Panitia juga melakukan serangkaian audiensi dan koordinasi dengan berbagai pihak, para pemangku kepentingan sebagai bentuk silaturahmi, penyampaian maksud dan tujuan kegiatan sekaligus memohon dukungan untuk terselenggaranya acara ini,” ujar Benhur.
Koordinasi itu mencakup dukungan perizinan, pengamanan, transportasi darat, penyesuaian jadwal perjalanan kapal bagi peserta, serta penyediaan kebutuhan teknis selama kegiatan. Benhur menyampaikan apresiasi atas keterlibatan masyarakat setempat dalam menyukseskan agenda organisasi.
“Sebab kami yakini kami ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Jika tanpa Tuhan dan dukungan berbagai pihak, kita dan seluruh masyarakat, maka kami tidak sampai di titik ini,” katanya.
Ketua Umum Pengurus Besar AMGPM, Melkianus Sairdekut, menekankan keterlibatan kader dalam menjaga lingkungan hidup sebagai bagian dari tanggung jawab pelayanan. Menurutnya, kepedulian terhadap persoalan lingkungan perlu diwujudkan lewat kegiatan nyata di berbagai jenjang organisasi.
“Jangan bosan untuk kita mulai berpikir terus dan mengerjakan apa yang menjadi bagian kita,” ujar Sairdekut.
Sairdekut juga menyoroti advokasi sebagai bagian tanggung jawab kader dalam membantu masyarakat yang menghadapi persoalan sosial dan kemanusiaan. Kehadiran AMGPM, katanya, perlu dirasakan melalui kontribusi sosial, bukan hanya kegiatan internal.
MPP XXXVII AMGPM berlangsung pada 19–21 Oktober 2026. Rangkaian dilanjutkan dengan pelatihan fasilitator pendidikan kader pada 22 Oktober 2026.
Lewat rangkaian itu, AMGPM berharap kesadaran kader terhadap pelestarian lingkungan menguat. Kegiatan produktif dan kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat di wilayah pelayanan masing-masing juga diharapkan ikut tumbuh.