BKSDA Maluku Perkuat Deteksi Dini Zoonosis Satwa Liar Lewat Sistem Informasi SIZE dan Koordinasi Lintas Sektor

Penulis: Yasir  •  Minggu, 27 September 2026 | 11:03:02 WIB
Polhut BKSDA Maluku Nur Arfa Lating menyampaikan penguatan deteksi dini zoonosis melalui pendekatan One Health.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku memperkuat deteksi dini penyakit zoonosis dan infeksi baru pada satwa liar melalui penguatan sistem informasi serta koordinasi lintas sektor. Penguatan dilakukan lewat keikutsertaan dalam Workshop Sistem Informasi Zoonosis dan Emerging Infectious Diseases (SIZE) Regional Tengah Timur di Jawa Barat. Langkah ini menyatukan data kesehatan manusia, hewan, dan satwa liar dalam satu pendekatan One Health.

AMBON — Polisi Kehutanan (Polhut) BKSDA Maluku Nur Arfa Lating menyatakan penguatan tersebut menjadi bagian dari keikutsertaan BKSDA Maluku dalam Workshop Sistem Informasi Zoonosis dan Emerging Infectious Diseases (SIZE) Regional Tengah Timur di Jawa Barat. Kegiatan itu digelar untuk meningkatkan kapasitas dan koordinasi lintas sektor. Menurut dia, koordinasi mencakup deteksi dini, pelaporan, hingga respons cepat terhadap zoonosis dan penyakit infeksi baru.

Apa Itu Sistem Informasi SIZE dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Sistem SIZE mengintegrasikan data dari tiga platform utama. Ketiganya adalah Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (ISIKHNAS), dan SehatSatli.

Integrasi data itu mendukung pemantauan penyakit pada manusia, hewan, dan satwa liar sekaligus. Dengan begitu, potensi ancaman zoonosis bisa terdeteksi lebih awal sebelum meluas.

Mengapa BKSDA Maluku Ikut Workshop Regional Tengah Timur?

Keikutsertaan BKSDA Maluku disebut sebagai bagian dari penguatan kolaborasi antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan satwa liar. Nur Arfa Lating menyebut pendekatan yang dipakai adalah One Health.

"Keikutsertaan BKSDA Maluku menjadi bagian dari penguatan kolaborasi antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan satwa liar melalui pendekatan One Health," ujarnya.

Pendekatan itu menempatkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling memengaruhi. Zoonosis sendiri adalah penyakit yang menular dari satwa ke manusia, sehingga deteksi di sisi satwa menjadi kunci pencegahan.

Data Terpadu untuk Pantau Kesehatan Satwa di Kawasan Konservasi

Penguatan sistem informasi dan koordinasi lintas sektor mendukung pemantauan kesehatan satwa liar secara lebih terpadu. Pemantauan itu termasuk mendeteksi potensi ancaman zoonosis dan penyakit infeksi baru yang berkaitan dengan satwa liar dan ekosistem konservasi.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan satwa sekaligus mengantisipasi potensi penularan penyakit yang bersumber dari satwa kepada manusia. Bagi Maluku yang punya banyak kawasan konservasi dan satwa endemik, sistem pelaporan cepat menjadi kebutuhan.

Dengan data yang terhubung antara SKDR, ISIKHNAS, dan SehatSatli, petugas di lapangan bisa melaporkan temuan lebih cepat. Respons pun tidak lagi bergantung pada satu sektor saja.

Reporter: Yasir
Sumber: ambon.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top