Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku memperkuat deteksi dini penyakit zoonosis dan infeksi baru pada satwa liar melalui penguatan sistem informasi serta koordinasi lintas sektor. Penguatan dilakukan lewat keikutsertaan dalam Workshop Sistem Informasi Zoonosis dan Emerging Infectious Diseases (SIZE) Regional Tengah Timur di Jawa Barat. Langkah ini menyatukan data kesehatan manusia, hewan, dan satwa liar dalam satu pendekatan One Health.
AMBON — Polisi Kehutanan (Polhut) BKSDA Maluku Nur Arfa Lating menyatakan penguatan tersebut menjadi bagian dari keikutsertaan BKSDA Maluku dalam Workshop Sistem Informasi Zoonosis dan Emerging Infectious Diseases (SIZE) Regional Tengah Timur di Jawa Barat. Kegiatan itu digelar untuk meningkatkan kapasitas dan koordinasi lintas sektor. Menurut dia, koordinasi mencakup deteksi dini, pelaporan, hingga respons cepat terhadap zoonosis dan penyakit infeksi baru.
Sistem SIZE mengintegrasikan data dari tiga platform utama. Ketiganya adalah Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (ISIKHNAS), dan SehatSatli.
Integrasi data itu mendukung pemantauan penyakit pada manusia, hewan, dan satwa liar sekaligus. Dengan begitu, potensi ancaman zoonosis bisa terdeteksi lebih awal sebelum meluas.
Keikutsertaan BKSDA Maluku disebut sebagai bagian dari penguatan kolaborasi antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan satwa liar. Nur Arfa Lating menyebut pendekatan yang dipakai adalah One Health.
"Keikutsertaan BKSDA Maluku menjadi bagian dari penguatan kolaborasi antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan satwa liar melalui pendekatan One Health," ujarnya.
Pendekatan itu menempatkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling memengaruhi. Zoonosis sendiri adalah penyakit yang menular dari satwa ke manusia, sehingga deteksi di sisi satwa menjadi kunci pencegahan.
Penguatan sistem informasi dan koordinasi lintas sektor mendukung pemantauan kesehatan satwa liar secara lebih terpadu. Pemantauan itu termasuk mendeteksi potensi ancaman zoonosis dan penyakit infeksi baru yang berkaitan dengan satwa liar dan ekosistem konservasi.
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan satwa sekaligus mengantisipasi potensi penularan penyakit yang bersumber dari satwa kepada manusia. Bagi Maluku yang punya banyak kawasan konservasi dan satwa endemik, sistem pelaporan cepat menjadi kebutuhan.
Dengan data yang terhubung antara SKDR, ISIKHNAS, dan SehatSatli, petugas di lapangan bisa melaporkan temuan lebih cepat. Respons pun tidak lagi bergantung pada satu sektor saja.