Pemerintah Kota Ambon menekankan pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan, bukan menunggu anak lahir. Wakil Wali Kota Ambon Ely Toisutta menyatakan percepatan penurunan stunting tidak cukup berorientasi pada angka, tetapi memastikan setiap anak tumbuh sehat dan berkembang optimal. Kasus stunting di kota itu tercatat turun dari 279 kasus pada 2025 menjadi 271 kasus pada 2026.
AMBON — Pemerintah Kota Ambon mendorong pencegahan stunting dilakukan sejak masa kehamilan dengan memastikan pemenuhan kesehatan dan gizi ibu hingga anak selama periode pertumbuhan. Penekanan itu disampaikan Wakil Wali Kota Ambon Ely Toisutta saat menghadiri Ceramah Kesehatan Program Kerja Persit Kartika Chandra Kirana XV/Pattimura Tahun 2026 di Baileo Slamet Riyadi Korem 151/Binaiya.
Menurut Ely, percepatan penurunan stunting tidak hanya berorientasi pada penurunan angka, tetapi juga memastikan setiap anak dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal. Ia menilai perhatian terhadap kesehatan dan gizi anak harus dimulai sejak masa kehamilan, dilanjutkan pada masa bayi, dan diperkuat pada periode pertumbuhan berikutnya.
Ely menyoroti persoalan gizi anak yang tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan. Pengetahuan keluarga, pola asuh, pemilihan bahan pangan, cara pengolahan, frekuensi pemberian makanan, serta pemahaman kebutuhan gizi sesuai usia anak turut menentukan.
"Persoalan gizi bukan semata-mata karena tidak tersedianya makanan, tetapi juga berkaitan dengan pengetahuan, pola asuh, pemilihan bahan pangan, cara pengolahan, serta pemahaman kebutuhan gizi sesuai usia anak," ujarnya.
Ia menambahkan pemahaman mengenai pemberian makan bayi dan anak serta pemantauan kurva tumbuh kembang melalui Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) penting bagi keluarga. Buku itu dipakai untuk memantau kondisi kesehatan dan pertumbuhan anak secara berkala.
Ely menekankan peran kader Posyandu, kelompok perempuan, dan organisasi kemasyarakatan dalam memberikan edukasi kepada keluarga. Mereka dinilai menjadi ujung tombak penyampaian informasi gizi di tingkat kampung dan kelurahan.
Soal biaya, Ely menyebut makanan bergizi tidak selalu harus mahal. Keluarga dapat memanfaatkan pangan yang tersedia di sekitar dengan tetap memperhatikan keberagaman, kebersihan, keamanan, dan kecukupan gizi.
Kota Ambon menjadi salah satu daerah berkinerja baik dalam percepatan penurunan stunting di Provinsi Maluku dengan nilai 74,15. Berdasarkan data SKI, jumlah kasus stunting di Kota Ambon turun dari 279 kasus atau 1,60 persen pada 2025 menjadi 271 kasus atau 1,58 persen pada 2026.
"Capaian ini merupakan kerja kolaborasi kita bersama dalam penurunan stunting di Kota Ambon. Pemerintah Kota Ambon menargetkan penurunan angka stunting sebesar tiga persen setiap tahun," ucap Toisutta.
Target tiga persen per tahun itu menuntut kerja lintas sektor, mulai dari puskesmas, posyandu, hingga organisasi kemasyarakatan. Pemkot Ambon menempatkan pendampingan keluarga sebagai bagian dari upaya menjaga tren penurunan kasus stunting di wilayahnya.