MALUKU — Bukan cuma soal selera. Peneliti sudah membedah durian sampai level genetika, dan hasilnya menjelaskan kenapa buah ini begitu khas sekaligus bergizi.
Studi genetika yang dipublikasikan di jurnal Nature Genetics memetakan genom durian dan menemukan fakta mengejutkan. Buah ini punya jumlah gen pembuat senyawa sulfur volatil (methanethiol) dua kali lipat lebih banyak dibanding tanaman lain.
Senyawa sulfur berlebih itulah penyebab aromanya sanggup tercium dari jarak jauh. Jadi, bau menyengat durian bukan kebetulan, melainkan hasil susunan genetiknya sendiri.
Laporan analisis gizi dari Food Research International menunjukkan durian punya profil nutrisi yang tinggi. Kandungannya meliputi lemak sehat, serat, serta vitamin C dan B-kompleks.
Kombinasi ini membuat durian bukan sekadar camilan manis. Ada nilai gizi nyata di balik setiap suapan daging buahnya.
Durian mengandung asam amino triptofan. Senyawa ini memicu pembentukan hormon serotonin yang berfungsi meredakan stres dan memberi efek rileks.
Efeknya menjelaskan kenapa sebagian orang merasa lebih tenang setelah makan durian. Meski begitu, ini bukan alasan untuk mengonsumsinya tanpa batas.
Data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati durian terbesar di dunia. Ada puluhan varietas unggul lokal dengan keunikan masing-masing.
Varietas-varietas ini punya perbedaan rasa, tekstur, hingga ketahanan alami terhadap hama. Kekayaan ini jadi modal penting bagi pengembangan durian nasional.
Meski kaya nutrisi, para ahli kesehatan menyarankan konsumsi durian tetap dibatasi. Kandungan kalori dan karbohidratnya tergolong tinggi.
Peringatan ini terutama berlaku bagi individu yang sedang mengontrol kadar gula darah. Menikmati durian boleh, tapi porsinya tetap perlu dijaga.
Dari genom sampai kandungan gizinya, durian memang layak menyandang gelar King of Fruits. Aromanya mungkin bikin pro dan kontra, tapi fakta ilmiah di baliknya sulit dibantah.