6 Wilayah di Maluku Masih Terpantau Titik Panas Karhutla, Pemprov Perkuat Koordinasi Lintas Sektor

Penulis: Sutomo  •  Selasa, 08 September 2026 | 14:31:01 WIB
Enam wilayah di Maluku masih terpantau titik panas karhutla melalui aplikasi SiPongi.

AMBON — Sebanyak enam kabupaten di Maluku masih memiliki titik panas yang berpotensi memicu karhutla. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Haikal Baadila menyebut wilayah tersebut tersebar dari Pulau Buru hingga Maluku Tenggara.

Enam wilayah itu adalah Pulau Buru, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) khususnya Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), dan Kabupaten Maluku Tenggara (Malra).

Hotspot Terpantau Lewat Aplikasi SiPongi

Haikal mengatakan, titik panas tersebut terdeteksi melalui citra satelit pada aplikasi SiPongi yang dikelola Kementerian Kehutanan. Data ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memetakan wilayah rawan.

“Hotspot tersebut terpantau melalui citra satelit pada aplikasi SiPongi yang dikelola Kementerian Kehutanan,” kata Haikal saat dihubungi RRI, Selasa (8/9/2026).

Pemantauan terhadap perkembangan hotspot terus dilakukan secara berkala. Hasil pantauan itu digunakan untuk mendukung langkah penanganan di lapangan, terutama di daerah yang aksesnya sulit dijangkau.

Posko Pengendalian Karhutla Disiapkan di Daerah Rawan

Dinas Kehutanan Maluku berkoordinasi dengan UPT Kementerian Kehutanan di daerah untuk membentuk posko pengendalian karhutla. Posko ini menjadi bagian dari kesiapan pemerintah merespons potensi kebakaran di wilayah rawan.

Koordinasi juga diperluas dengan pemerintah kabupaten dan kota, TNI-Polri, BPBD, instansi teknis, serta pelaku usaha. Langkah ini ditempuh karena karhutla tidak bisa ditangani sendiri oleh satu instansi.

“Kita siap mengantisipasi itu dengan dukungan dari berbagai pihak, kita harus kerja bersama, tidak bisa rencana ini kita lakukan oleh kita sendiri,” ujar Haikal.

Masyarakat Peduli Api Dibentuk dan Dibekali Peralatan

Pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan warga yang tinggal di sekitar kawasan rawan kebakaran. Pemerintah telah membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) dan membekali kelompok tersebut dengan sarana prasarana pemadaman.

Haikal menambahkan, kesiapsiagaan menjadi kunci utama menghadapi kemarau panjang yang terjadi saat ini. Ia mengimbau warga tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berisiko memicu kebakaran yang lebih luas.

Reporter: Sutomo
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top