MALUKU — Kesan pertama membuka Acer Vero 16 bukan seperti laptop hijau generasi lama yang terbuat dari plastik PCR kasar dan terasa seperti memakai sweter wol gatal. Kini bodinya memakai aluminium low-carbon dengan lapisan powder-coated yang halus, dan seberat 1,56 kg — cukup portable untuk ukuran 16 inci. Namun yang jadi pembeda utama bukan soal tampilannya, melainkan seberapa jauh Acer berani membawa konsep modular ke produk mainstream.
Berbeda dengan kebanyakan ultrabook yang butuh alat khusus untuk membuka casing, Vero 16 punya latch di bagian bawah yang bisa dibuka dengan tangan kosong. Saya butuh beberapa detik untuk menemukan cara yang benar pada unit pra-produksi ini, tapi setelah itu prosesnya terasa sangat intuitif. Konektor baterai mudah dijangkau, dan slot M.2 SSD bisa diganti tanpa perlu membongkar banyak lapisan.
Modul I/O juga bisa dilepas dengan dua sekrup saja — lengkap dengan daughterboard-nya. Jadi kalau port Thunderbolt 4 atau HDMI 2.1 rusak, Anda tidak harus mengganti motherboard utuh. Sayangnya, Acer belum berencana menawarkan konfigurasi port alternatif seperti Framework. Anda hanya bisa mengganti yang rusak, bukan menyesuaikan kebutuhan.
Dukungan upgrade CPU dua generasi juga dijanjikan, yang berarti processor di motherboard bisa ditukar di kemudian hari. Acer untuk saat ini hanya akan melakukan penggantian di pusat servis, bukan sebagai DIY kit yang dijual bebas. Tapi dengan tekanan right-to-repair yang makin kuat, bukan tidak mungkin mereka merilis panduan plus komponen untuk pengguna rumahan di masa depan.
Laptop ramah lingkungan biasanya mengorbankan kualitas layar demi efisiensi baterai. Vero 16 justru sebaliknya: panel 2800 x 1800 piksel dengan refresh rate 120Hz, teknologi OLED, dan dukungan HDR. Warna yang dihasilkan kaya dan kontras, sesuatu yang tidak pernah terlihat pada jajaran Vero sebelumnya. Pilihan prosesornya juga tidak main-main, hingga Intel Core Ultra X9 388H dengan RAM 32GB — spesifikasi yang cukup untuk tugas prosumer atau sesekali main game.
Dari sisi build, bodi aluminiumnya terasa kaku dan kokoh. Akan tetapi, area keyboard masih sedikit melentur saat ditekan agak keras. Tidak sampai mengganggu penggunaan normal, tapi beda cukup terlihat dibanding kompetitor seperti Dell XPS yang keyboard deck-nya benar-benar solid.
Di angka £1.599 (sekitar Rp 29–30 juta dengan kurs saat ini), Acer Vero 16 langsung melawan MacBook Air dan Dell XPS. Pertanyaannya: apakah Anda mau membayar premi untuk kemudahan reparasi? Belum ada kepastian harga untuk pasar Indonesia, dan itu jadi salah satu hambatan terbesar. Berbeda dengan Framework yang menawarkan banyak opsi modul dan aksesori, ekosistem penggantian komponen Acer masih terbatas — kekurangan yang sebaiknya dipertimbangkan sebelum memutuskan membeli.
Saya juga belum bisa menguji daya tahan baterai, performa thermal saat dipakai berat, serta apakah desain modular ini tetap awet setelah bertahun-tahun latches dan engsel dibuka-tutup berulang kali. Klaim dukungan upgrade CPU dua generasi kedengarannya menjanjikan, tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk membuktikan apakah investasi awal yang besar ini benar-benar mencegah Anda membeli laptop baru dalam tiga tahun kedepan.
Sebagai kesan awal, Acer Vero 16 adalah langkah berani yang berhasil dieksekusi dengan cukup rapi di segmen mainstream. Desainnya tidak lagi terlihat seperti laptop daur ulang yang dikorbankan estetikanya, layarnya kelas premium, dan konsep reparabilitasnya jelas membawa dampak lingkungan yang nyata. Namun harga jual yang tinggi dan ekosistem modul yang belum seluas Framework membuat produk ini hanya relevan untuk segmen pembeli yang sangat peduli pada jangka panjang — bukan untuk mereka yang cuma mencari ultrabook tipis biasa dengan harga bersaing.