WIKA Beton Klaim Rumah Bisa Rampung 10 Hari, Begini Caranya

Penulis: Fajar  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 16:50:32 WIB
WIKA Beton memamerkan teknologi rumah modular WHOME pada Danantara Housing Expo 2026 di Maluku.

MALUKU — Anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk ini memamerkan teknologi WHOME dalam ajang Danantara Housing Expo 2026. Inovasinya menjawab salah satu tantangan terbesar pembangunan hunian massal di Indonesia: kecepatan.

"Kami memberikan dukungan agar Program Tiga Juta Rumah ini bisa terwujud. Dengan membangun secara masif, maka salah satu tantangannya adalah kecepatan. Inovasi WHOME ini mencoba menjawabnya," ujar Director of Engineering and Production WIKA Beton Verly Widiantoro dalam keterangan resminya, Senin (31/8).

Rumah 10 Hari: Dari Pabrik Langsung Dirakit di Lokasi

Konsep modular precast membuat komponen rumah diproduksi terlebih dahulu di pabrik, lalu dikirim ke lokasi pembangunan untuk dirakit. Verly mengibaratkan prosesnya seperti menyusun lego.

Hasil uji lapangan yang dilakukan dua kali menunjukkan struktur rumah dapat diselesaikan hanya dalam dua hari. Adapun penyelesaian total rumah hingga siap huni dengan perabotan lengkap membutuhkan waktu sekitar 10 hari.

Kecepatan ini menjadi krusial ketika kebutuhan hunian harus dipenuhi dalam jumlah besar dan waktu singkat. Untuk proyek di lokasi yang sulit dijangkau seperti Aceh Tamiang, WIKA Beton menerapkan konsep mobile plant—fasilitas produksi yang ditempatkan dekat dengan proyek—sehingga kapasitasnya bisa mencapai 5.000 rumah per bulan.

"Dengan segala keterbatasan, kami bisa secara cepat bangun rumah di sana," kata Verly.

Tahan Gempa dan Ramah Lingkungan

Kecepatan bukan satu-satunya keunggulan. Fitur tahan gempa dikembangkan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan melibatkan tenaga ahli eksternal. Struktur WHOME telah diuji memenuhi standar Kategori Desain Seismik (KDS) D dari Kementerian Pekerjaan Umum, mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI).

Teknologi ini juga mengusung konsep bangunan hijau. WIKA Beton memanfaatkan material sisa industri seperti fly ash dari limbah batu bara dan slag dari limbah besi sebagai bagian dari material bangunan. "Jadi kami memanfaatkan barang-barang limbah, sehingga itu fitur green-nya," jelas Verly.

Pembiayaan Terjangkau Jadi Kunci

Di sisi lain, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menekankan bahwa pemenuhan kebutuhan hunian tidak hanya soal pasokan rumah. Kemudahan akses dan skema pembiayaan yang terjangkau menjadi faktor penting, terutama bagi pembeli rumah pertama.

Danantara menyinergikan ekosistem BUMN properti, Himbara, dan pengembang swasta untuk mempermudah masyarakat memiliki rumah. Skema yang ditawarkan antara lain uang muka mulai 1 persen serta tenor pembiayaan panjang.

"Melalui pameran ini, kami berupaya menghadirkan pasokan terbaik dengan harga terjangkau, skema pembiayaan kompetitif dan yang paling penting adalah akses lebih mudah bagi masyarakat untuk mewujudkan rumah impiannya," tutur Rosan.

Dengan kombinasi teknologi konstruksi cepat dan skema pembiayaan yang lebih ringan, Program Tiga Juta Rumah mendapat angin segar dari sisi eksekusi di lapangan maupun daya beli masyarakat.

Reporter: Fajar
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top