MALUKU — Kontroversi seputar penggunaan generative AI (gen-AI) di industri game kembali memanas. Setelah Saber Interactive diterpa kritik terkait game simulasi taksi mereka, Rideshare, sang Chief Creative Officer, Tim Willits, angkat bicara. Dalam wawancara di Gamescom, ia menyebut eksperimen ini sebagai langkah kecil yang berisiko, tetapi yakin akan ada "Half-Life 2" dari AI yang mengubah cara pandang orang.
Insiden ini bermula dari cekcok antara CEO Saber, Matthew Karch, dengan mantan karyawan di media sosial. Karch sempat bereaksi keras terhadap kritik soal pemakaian AI di Rideshare, namun kemudian meminta maaf dan menambahkan label pengungkapan AI di halaman Steam game tersebut.
Willits menjelaskan bahwa Rideshare, game tentang mengelola bisnis taksi berbasis aplikasi, adalah satu-satunya proyek yang aktif menggunakan gen-AI. Teknologi ini dipakai untuk membangkitkan suara, lokalisasi, dan musik di stasiun radio dalam game. Fitur paling eksperimental ada di mode Free Ride, di mana AI digunakan untuk menghasilkan misi dan dialog secara prosedural.
"Kami sedang bereksperimen. Game yang kami umumkan bernama Rideshare—ini game kecil—kami akan mencoba mencari tahu apakah ini berhasil atau tidak," ujar Willits kepada Eurogamer. Ia menambahkan bahwa industri dan konsumen belum benar-benar tahu bagaimana teknologi ini seharusnya digunakan.
Menurut Willits, mengambil risiko besar dengan teknologi yang belum matang adalah langkah yang bodoh. Ia menegaskan bahwa Saber tidak memiliki kebijakan resmi untuk menggunakan AI di semua proyek. "Kamu tidak ingin mengambil risiko pada hal yang besar, karena ada risikonya, tapi seseorang akan melakukannya," katanya, merujuk pada pernyataan Karch tentang pentingnya berinovasi.
Saber sendiri adalah penerbit besar dengan 15 studio di seluruh dunia. Mereka bertanggung jawab atas game-game besar seperti John Wick, Turok, Jurassic Park: Survival, dan remake Star Wars: Knights of the Old Republic. Keputusan untuk mengadopsi AI secara luas akan berdampak besar pada proyek-proyek ini.
Saber bukan satu-satunya studio yang menghadapi tekanan publik. Patrice Désilets, kreator Assassin's Creed, juga membela penggunaan AI di studionya, Panache, untuk mengembangkan 1666: Amsterdam. Ia berargumen bahwa kita hidup di dunia yang penuh AI dan harus jujur akan hal itu.
Studio lain seperti Owlcat Games juga memakai gen-AI untuk membantu pengembangan The Expanse: Osiris Reborn. Bahkan Larian Studios, pengembang Baldur's Gate 3, sempat menggunakannya pada fase konsep seni untuk game terbaru mereka. Namun, semua langkah ini kerap menuai kecaman, mulai dari isu hak cipta, dampak lingkungan dari pusat data AI, hingga kekhawatiran tergantikannya seniman manusia.
Willits menanggapi kritik tersebut dengan santai. "Saya membuat contoh yang konyol, tapi seseorang akan membuat sesuatu yang akan mengubah pikiran orang," ujarnya. Ia menekankan bahwa eksperimen seperti ini penting dilakukan di skala kecil untuk menemukan batas kemampuan teknologi sebelum diterapkan lebih luas.