MALUKU — Presiden Prabowo Subianto mengangkat kisah nyata seorang anak penjual ikan asal Medan dalam pidato kenegaraannya di Sidang Tahunan MPR, Jumat (14/8/2026). Muhammad Risky Pratama, 12 tahun, sempat kehilangan hak pendidikannya sebelum akhirnya tertampung di Sekolah Rakyat.
Di hadapan para pejabat tinggi negara, Prabowo meminta Risky yang hadir di ruang sidang untuk berdiri. Ia menyoroti kondisi fisik anak tersebut yang kurus, namun mampu mengayuh sepeda puluhan kilometer sambil membawa 30 kilogram ikan untuk dijual.
"Rizky, berdiri lagi. Bayangkan badan seperti ini naik sepeda membawa 30 kg ikan, luar biasa kau, Rizky. Kau anak yang baik," ucap Prabowo dalam pidatonya.
Sebelum kembali bersekolah, Risky tercatat putus sekolah. Kondisi ekonomi keluarganya memaksanya bekerja membantu orang tua berjualan ikan keliling. Kemampuan membaca dan menghitungnya saat itu disebut belum lancar.
Melalui Sekolah Rakyat Menengah Pertama 2 Medan, Risky kini kembali duduk di bangku kelas. Prabowo menegaskan tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak.
Dalam pidatonya, Prabowo menekankan bahwa kondisi ekonomi orang tua tidak seharusnya merampas hak pendidikan anak. Ia merujuk pada amanat konstitusi sebagai dasar intervensi negara.
"Kalau orang tua mengalami kondisi kemiskinan, anak-anak mereka tidak boleh. Sesuai Pasal 34 Undang Undang Dasar Negara kita, negara harus intervensi," tegasnya.
Prabowo memaparkan capaian program Sekolah Rakyat yang dirancang sebagai lembaga pendidikan berasrama. Konsep ini menyediakan tidak hanya ruang kelas, tetapi juga tempat tinggal, makanan bergizi, komputer, guru, dan lingkungan yang aman bagi anak-anak dari keluarga paling tidak berdaya.
"Hari ini, 93 Sekolah Rakyat permanen kita buka. Ditambah Sekolah Rakyat rintisan, total sudah 182 Sekolah Rakyat kita buka," kata Prabowo.
Program Sekolah Rakyat digagas sebagai solusi jangka panjang untuk memutus siklus kemiskinan yang sering kali menular dari orang tua ke anak. Dengan memberikan akses pendidikan penuh dan fasilitas pendukung, pemerintah berharap anak-anak dari keluarga prasejahtera dapat keluar dari jerat kemiskinan.
Kisah Risky menjadi simbol keberhasilan awal program ini. Setelah menjalani kehidupan sulit sebagai anak penjual ikan, ia kini memiliki kesempatan untuk menata kembali cita-citanya melalui bangku sekolah.
"Hari ini, Risky kembali ke sekolah. Ia mendapatkan kembali haknya untuk belajar dan menata cita-cita. Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak," pungkas Prabowo.