AMBON — Panggung Taman Budaya Karang Panjang, Ambon, Sabtu malam dipenuhi dentum musik yang tak biasa. Alunan darbuka, balutan elektronik, dan olah vokal etnik menyatu. Penonton yang hadir tampak larut dalam setiap notasi yang dimainkan. Momen itu menjadi puncak dari program inkubasi MTN Lab x Rempah Gunung, yang selama lima hari sebelumnya membekali sepuluh musisi muda dengan struktur produksi dan manajemen karya.
Ardelony Imlabla, yang akrab disapa Padel, membuka malam pertunjukan. Petik suara pertamanya langsung membangun atmosfer magis. Meski aliran musik yang dibawakannya tak lazim di Ambon, tak satu pun penonton merasa asing. Semua terhanyut. Padel berhasil menciptakan pintu masuk yang sempurna untuk petualangan nada malam itu.
Di balik keajaiban panggung, ada proses panjang yang mengubah cara pandang musisi muda. Lola Abrahams, salah satu peserta, mengaku selama ini masyarakat Ambon kerap menganggap bakat musik sebagai DNA yang diwariskan begitu saja. “Stigma itu bikin saya ragu untuk tampil sendiri,” ujarnya.
Program inkubasi membongkar persepsi tersebut. Para peserta belajar bahwa merangkai karya butuh struktur: penulisan lirik yang sistematis, strategi promosi, hingga penguatan elemen visual. Bagi Lola, sesi intensif bersama narasumber menjadi titik balik personal.
“Jujur, tadinya saya datang dengan perasaan kosong dan ragu. Selama ini ada stigma diri yang menghambat saya untuk tampil sendiri,” aku Lola terus terang.
Pembuktian itu hadir saat sesi presentasi karya. Masukan konstruktif para mentor berhasil membangun kembali kepercayaan dirinya. “Melalui proses ini, rasa percaya diri itu perlahan terbentuk. Ketika mendengarkan hasil karya sendiri, saya baru menyadari bahwa ternyata saya mampu,” katanya.
Lola dan sembilan peserta lainnya kini membawa pulang lebih dari sekadar keterampilan teknis. Mereka membuktikan bahwa musik di Maluku tak cukup hanya bermodal bakat alamiah. Ada strategi, kerja keras, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman—seperti yang ditunjukkan di panggung Taman Budaya malam itu.