MALUKU — Wacana motor listrik nasional yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto memang membangkitkan optimisme soal kemandirian industri. Namun, di balik semangat itu, ada satu nama yang seharusnya tidak dilupakan: Gesits. Motor listrik yang lahir dari kolaborasi PT Garansindo, ITS, PT Pindad, PT LEN Industri, dan PT WIMA ini pernah menjadi simbol kebangkitan roda dua tanpa emisi. Kini, Gesits praktis mengalami fase mati suri setelah diakuisisi IBC pada akhir 2022.
IBC bukan entitas sembarangan. Konsorsium ini beranggotakan raksasa BUMN energi dan tambang seperti MIND ID, Pertamina, dan PLN. Seluruh kekuatan itu kini telah dikonsolidasikan di bawah kendali BPI Danantara. Artinya, negara melalui Danantara sejatinya sudah menguasai rantai pasok dari pengelolaan material baterai, infrastruktur energi, hingga manufaktur kendaraan yang diwakili Gesits.
Struktur ekonomi-politik sebesar itu sudah dibangun dengan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Dengan realitas ini, wacana memulai proyek motor listrik baru dari titik nol memunculkan tanda tanya besar. Logika investasi yang sehat seharusnya mendorong revitalisasi aset yang sudah ada, bukan menciptakan merek baru tanpa menyelesaikan kendala mendasar yang membuat Gesits tersendat.
Hingga saat ini, wujud, spesifikasi teknis, maupun cetak biru proyek motor listrik garapan baru tersebut belum dipaparkan secara transparan. Publik hanya disuguhi janji peluncuran dalam hitungan minggu dan visi bahwa kendaraan itu kelak akan menopang mobilitas para petani, mirip narasi kendaraan taktis Maung buatan Pindad.
Belum ada kejelasan mengenai dari mana sel baterai disuplai, siapa mitra manufakturnya, atau bagaimana skema rantai pasoknya akan dibangun. Pengumuman yang terkesan mendadak tanpa penjabaran teknis yang matang ini justru mengirimkan sinyal kewaspadaan bagi para pengamat dan pelaku industri.
Membangun kedaulatan kendaraan roda dua berskala masif bukan sekadar merakit komponen dan menempelkan emblem nasional. Tanpa kejelasan peta jalan—khususnya mengenai kewajiban bersinergi dengan ekosistem yang sudah ada di bawah payung Danantara dan IBC—peluncuran yang tergesa-gesa berpotensi menjadi panggung seremoni politis. Konsumen roda dua di Indonesia adalah kelompok yang sangat rasional. Mereka memikirkan jaminan garansi, kemudahan klaim suku cadang, standar keamanan baterai, serta kejelasan nilai jual kembali di pasar sekunder.
Membiarkan pengalaman Gesits menguap begitu saja sembari merayakan proyek rintisan baru sama halnya dengan merancang pengulangan sejarah dalam kemasan yang berbeda. Inefisiensi anggaran dan pemborosan sumber daya intelektual bangsa menjadi risiko nyata jika langkah strategis tidak didasari data dan evaluasi menyeluruh.