7 Komunitas Hobi Aktif di Maluku yang Bisa Kamu Ikuti Lengkap dengan Jadwal dan Biaya

Penulis: Sutomo  •  Minggu, 12 Juli 2026 | 18:33:32 WIB
Komunitas Vespa Tua Ambon rutin berkumpul setiap Senin malam di Benteng Victoria.

Ambon bukan kota yang sunyi. Senin malam, pukul 19.00 WIT, puluhan sepeda motor keluaran lama berkumpul di parkiran depan Benteng Victoria. Mereka bukan sekadar nongkrong. Mereka adalah anggota komunitas Vespa Tua Ambon, salah satu dari puluhan kelompok hobi yang hidup di Maluku.

Bagi warga lokal yang bosan dengan rutinitas, atau perantau yang baru pindah dan butuh teman, komunitas ini jadi jembatan paling efektif. Berikut tujuh di antaranya yang rutin menggelar kegiatan dan terbuka untuk anggota baru.

1. Komunitas Lari Ambon Runners Club

Setiap Sabtu pukul 05.30 WIT, titik kumpul di Lapangan Merdeka, pusat Kota Ambon. Rute lari berputar ke Jalur Tiga, melewati Pantai Batu Gong, lalu finish di lokasi awal. Jarak tempuh 5-10 kilometer, tergantung kesepakatan pagi itu.

Tidak ada biaya pendaftaran. Cukup datang dengan sepatu lari. Komunitas ini sudah berjalan sejak 2022 dan konsisten mengadakan latihan bersama setiap akhir pekan. Peserta campuran, dari pegawai kantoran hingga mahasiswa Universitas Pattimura.

2. Vespa Tua Ambon (VTA) — Kopdar Malam Senin

Mereka menyebut diri mereka "penggila besi tua." Kopdar utama setiap Senin malam, pukul 19.00 WIT, di parkiran Benteng Victoria. Tidak ada iuran bulanan. Biaya hanya keluar kalau ada touring ke Pulau Haruku atau Negeri Soya.

Anggota wajib membawa motor Vespa tahun 1990 ke bawah. Kalau kamu punya vespa tapi belum jadi anggota, cukup datang langsung. Cari koordinator lapangan bernama Rian, biasa pakai jaket loreng hitam.

3. Komunitas Fotografer Ambon (KFA) — Hunting Jumat Pagi

Jadwal hunting foto setiap Jumat pertama bulanan, pukul 06.00 WIT. Titik kumpul di kafe Kopi Teras, Jalan Sultan Hasanuddin, Batu Gajah. Anggotanya sekitar 40 orang aktif, dari fotografer ponsel hingga yang bawa kamera mirrorless full-frame.

Biaya iuran sukarela, biasanya Rp20.000 per pertemuan untuk konsumsi. Komunitas ini juga rutin mengadakan pameran foto tahunan di Museum Siwalima. Terakhir, Maret 2026, mereka pameran tematik "Ambon dari Ketinggian" di lantai dua mall Ambon City Center.

4. Maluku Diving Community — Menyelam Setiap Minggu

Basis mereka di Pantai Natsepa, jarak 30 menit dari pusat kota. Setiap Minggu pagi pukul 08.00 WIT, mereka menyelam di spot-spot sekitar Teluk Ambon. Biaya sewa alat snorkeling Rp50.000, untuk diving lengkap Rp150.000 sudah termasuk tabung dan pemberat.

Komunitas ini terbuka untuk pemula. Instruktur bernama Alex, mantan penyelam TNI AL yang sudah 12 tahun tinggal di Ambon, biasa memberikan pengarahan singkat sebelum turun ke air. Pendaftaran cukup lewat grup WhatsApp yang disebar di basecamp Natsepa.

5. Komunitas Skateboard Ambon — Skate di Taman Makmur

Lokasi utama di skatepark Taman Makmur, belakang Gereja Silo. Setiap sore, pukul 16.00 WIT, mulai ramai. Akhir pekan lebih ramai karena ada jam latihan bersama pukul 15.00-18.00 WIT.

Tidak ada biaya. Skatepark gratis dan terbuka untuk umum. Komunitas ini cukup solid, mereka bahkan mengadakan kompetisi tahunan "Ambon Street Battle" yang terakhir digelar November 2025 dengan total peserta 60 orang dari Maluku dan Maluku Utara.

6. Komunitas Pecinta Buku Ambon (PBA) — Diskusi Sabtu Sore

Berbeda dari klub baca biasa. PBA mengadakan diskusi buku setiap Sabtu minggu ketiga, pukul 16.00 WIT, di Perpustakaan Daerah Maluku, Jalan Pattimura. Anggota bebas membawa buku apa saja, tidak ada buku wajib.

Iuran Rp10.000 untuk kopi dan camilan. Komunitas ini sudah berjalan sejak 2019, sempat vakum saat pandemi, lalu aktif kembali awal 2024. Koordinatornya, Kak Yuni, pustakawan di perpustakaan daerah, memastikan diskusi tetap fokus dan tidak melebar ke topik politik praktis.

7. Komunitas Hiking Maluku — Pendakian Akhir Pekan

Jadwal pendakian biasanya Minggu pagi. Tujuan favorit: Gunung Sirimau (1.000 mdpl) dan Bukit Kapahaha di Pulau Buru. Biaya patungan transportasi dan konsumsi, rata-rata Rp75.000 per orang untuk satu kali pendakian.

Pendaftaran melalui grup WhatsApp. Mereka mewajibkan setiap peserta membawa air minum minimal 1,5 liter dan senter. Ketua komunitas, Aldo, biasa mengecek perlengkapan peserta pada Jumat malam sebelum pendakian. Terakhir mereka mendaki Gunung Sirimau pada 12 April 2026, rombongan 23 orang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah semua komunitas ini gratis?
Tidak semuanya. Komunitas lari, skateboard, dan Vespa Tua Ambon gratis tanpa iuran. Komunitas diving dan hiking punya biaya operasional. Fotografer dan klub buku iuran sukarela untuk konsumsi.

Bagaimana cara bergabung?
Datang langsung ke lokasi sesuai jadwal. Sebagian besar komunitas tidak punya sistem pendaftaran online formal. Cukup perkenalkan diri, bilang ingin gabung, biasanya langsung diterima.

Apakah ada komunitas hobi di luar Ambon?
Ada. Di Tual, ada komunitas selam tradisional "Laut Kei". Di Masohi, ada kelompok fotografer alam. Tapi aktivitasnya tidak serutin di Ambon. Sebagian besar kegiatan komunitas hobi di Maluku memang terpusat di Kota Ambon.

Apakah aman untuk perempuan datang sendiri?
Relatif aman. Komunitas lari dan klub buku punya anggota perempuan cukup banyak. Untuk komunitas hiking dan diving, disarankan datang berdua atau informasikan ke teman. Semua komunitas di atas tidak pernah menerima laporan masalah keamanan serius.

Usia minimal untuk bergabung?
Tidak ada batasan usia resmi. Komunitas skateboard dan lari menerima anak usia 12 tahun ke atas dengan izin orang tua. Komunitas diving menetapkan batas minimal 15 tahun karena faktor keselamatan.

Maluku tidak pernah kekurangan ruang untuk bertemu. Tujuh komunitas di atas bukan satu-satunya, tapi yang paling konsisten dan mudah diakses. Datang, duduk, dan bicara—satu pertemuan biasanya cukup untuk memulai.

Reporter: Sutomo
Back to top