MALUKU — FIFA boleh tersenyum puas. Cape Verde, negara kepulauan di Samudra Atlantik, menjadi bukti nyata bahwa ekspansi format Piala Dunia mampu melahirkan cerita baru. Tim yang nyaris tidak diperhitungkan itu sukses finis di posisi kedua Grup E, mengalahkan Uruguay dan menahan imbang Spanyol tanpa gol.
Kiper berusia 40 tahun, Vozinha, mendadak menjadi sensasi media sosial. Dari 50 ribu pengikut Instagram sebelum laga kontra Spanyol, melesat menjadi 16,7 juta setelah turnamen. Kisahnya makin lengkap saat sang ibu akhirnya bisa terbang ke AS untuk menonton langsung laga melawan Uruguay setelah sebelumnya gagal mendapatkan visa.
“Ini adalah cerita yang hanya bisa diciptakan oleh Piala Dunia untuk pemain seperti Vozinha,” tulis laporan yang mengulas perjalanan kiper yang menghabiskan kariernya di Moldova, Siprus, Slovakia, dan divisi dua Portugal itu.
Keberhasilan Cape Verde bukan satu-satunya cerita positif dari benua Afrika. Sembilan dari sepuluh wakil Afrika berhasil melaju ke babak 32 besar. DR Congo, Mesir, Pantai Gading, dan Afrika Selatan untuk pertama kalinya menembus fase gugur.
Sebaliknya, Asia menjadi zona paling timpang. Dari sembilan tim dan 27 pertandingan, hanya tiga kemenangan diraih dengan rata-rata 0,67 poin per laga. Jepang dan Australia menjadi satu-satunya wakil Asia yang lolos. Concacaf juga tidak lebih baik: dari 20 poin yang dikumpulkan, 19 di antaranya disumbang oleh tiga tuan rumah (AS, Meksiko, Kanada). Curacao, Haiti, dan Panama yang mendapat jatah tambahan hanya mencetak tiga gol dan kebobolan 21 gol.
Meski cerita Cape Verde menarik, format baru ini gagal menciptakan ketegangan bagi tim-tim besar. Dari 12 unggulan teratas, hanya Kanada dan Portugal yang gagal memuncaki grup. Salah satu penyebabnya adalah FIFA menggunakan rekor head-to-head sebagai tiebreaker pertama, bukan selisih gol. Akibatnya, empat tim sudah memastikan status juara grup sebelum laga terakhir, sementara lima tim lainnya sudah tersingkir lebih awal.
“Tidak ada kekalahan mengejutkan dalam pertandingan berarti bagi tim besar seperti saat Arab Saudi mengalahkan Argentina empat tahun lalu,” tulis laporan tersebut.
Di sisi lain, turnamen ini mencatat jumlah gol terbanyak sejak Piala Dunia Swedia 1958. Persaingan sepatu emas antara Lionel Messi, Kylian Mbappe, Erling Haaland, Cristiano Ronaldo, dan Harry Kane juga menjadi magnet tersendiri. Namun pertanyaan mendasar tetap mengemuka: apakah format baru ini benar-benar berhasil?
FIFA boleh berbangga dengan cerita Cape Verde. Tapi untuk turnamen yang mengklaim sebagai panggung sepak bola terbesar, hilangnya elemen kejutan dan ancaman bagi negara besar adalah harga yang harus dibayar.