Sketsa di Pasar Banda Neira: Ketika Seorang Sketcher Belajar Menerima Garis Tanpa Penghapus

Penulis: Yasir  •  Jumat, 19 Juni 2026 | 14:39:31 WIB
Namira Zifani Pelu menggambar langsung menggunakan pena di tengah keramaian Pasar Banda Neira.

BANDA NEIRA — Hari ketiga rangkaian kegiatan sketsa di Banda Neira berjalan berbeda dari ekspektasi Namira Zifani Pelu. Sketcher yang sehari-hari tinggal di Ambon itu berharap masuk kelompok pertama yang menggambar kawasan Istana Mini. Namun, ia justru ditempatkan di kelompok pasar.

“Sejujurnya, saya berharap masuk kelompok pertama. Menggambar bangunan terasa lebih mudah bagi saya, dibandingkan menggambar manusia yang terus bergerak,” tulisnya dalam catatan perjalanan yang dibagikan kepada media.

Awalnya ia menganggap nasib kurang beruntung. Belakangan ia sadar: justru di sanalah pelajaran paling berharga diperoleh.

Berani Tanpa Penghapus: Pelajaran dari Pasar

Di tengah hiruk-pikuk pasar, untuk pertama kalinya Namira memberanikan diri membuat sketsa langsung menggunakan pena. Ia meninggalkan kebiasaan lama yang selalu mengawali gambar dengan pensil.

“Tidak ada kesempatan menghapus. Tidak ada kesempatan mundur. Setiap garis harus diterima apa adanya. Barangkali hidup juga demikian,” ujarnya.

Di pasar itu ia bertemu para nelayan yang sedang menata ikan salir. Beberapa dari mereka menghampiri dan memperhatikan gambar yang sedang dibuat. Rasa penasaran mereka justru mengejutkan Namira.

Percakapan-percakapan kecil yang muncul kemudian membuatnya sadar: seni tidak selalu membutuhkan ruang galeri yang megah. “Kadang-kadang ia cukup hadir di sudut pasar, di antara aroma laut dan obrolan sederhana,” katanya.

Istana Mini Justru Lebih Sulit: Mengapa Tuhan Punya Rencana Lain?

Saat makan siang, rombongan kembali ke Rumah Pengasingan Bung Hatta lalu bertukar lokasi dengan kelompok lain. Kini giliran Namira menuju kawasan Istana Mini.

Anehnya, tempat yang sebelumnya ia anggap lebih mudah justru membuatnya kesulitan menentukan objek gambar. “Saat itulah saya tersenyum sendiri. Tuhan rupanya sudah memilihkan tempat terbaik untuk saya sejak awal,” tulisnya.

Hari itu menjadi hari yang manis antara Namira, pasar Banda, tiang bendera Istana Mini, dan rasa syukur yang datang tanpa diduga. Sebuah pengalaman yang membuktikan bahwa kadang rencana yang tidak sesuai keinginan justru menyimpan hadiah terbesar. (*)

Reporter: Yasir
Sumber: potretmaluku.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top