MALUKU — Pelemahan pasar saham terjadi setelah MSCI Inc mengumumkan hasil rebalancing indeks yang berlaku efektif mulai 1 Juni 2026. MSCI mengeluarkan 5 saham dari Global Standard Index dan 13 saham dari Small Cap Index, termasuk PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
Pada pukul 09.00 WIB, volume transaksi mencapai 520 juta saham dengan nilai Rp 290,312 miliar. Saham-saham yang mengalami frekuensi perdagangan tertinggi pagi itu adalah CUAN, GOTO, ANTM, BRPT, dan BUMI. Sementara itu, Indeks LQ45 menguat tipis 0,18% ke posisi 669,84.
Menurut analis Panin Sekuritas Elandry Pratama, pengumuman MSCI akan direspons negatif karena saham-saham yang dikeluarkan merupakan aset kapitalisasi besar yang selama ini menjadi target utama dana asing pasif.
"Apalagi yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard merupakan saham-saham dengan kapitalisasi besar dan selama ini menjadi target utama dana asing pasif," ujar Elandry kepada Katadata.
Keluarnya enam saham utama berpotensi memicu forced selling dari fund manager global yang menjadikan MSCI sebagai acuan investasi. Tekanan jual diperkirakan akan terasa pada saham-saham terkait hingga menjelang tanggal efektif implementasi pada 1 Juni 2026.
Elandry menilai keputusan MSCI memperkuat persepsi bahwa bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets terus berkurang. Kondisi ini bukan hanya memicu arus keluar jangka pendek, tetapi juga dapat menurunkan visibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.
Investor asing dinilai semakin selektif terhadap pasar negara berkembang, terutama yang mengalami penurunan likuiditas. Secara kasar, potensi dana asing yang keluar diperkirakan dapat mencapai ratusan juta dolar AS secara bertahap, terutama dari passive funds dan exchange-traded funds (ETF) yang wajib menyesuaikan portofolio mengikuti komposisi MSCI.
Meski tekanan jual bersifat teknikal dan diperkirakan akan berlanjut, Elandry melihat peluang rebound ketika forced selling selesai. "Setelah tekanan jual teknikal selesai, saham-saham yang fundamentalnya masih solid berpotensi mengalami rebound," kata dia.
Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan akan bergerak defensif dan volatil. Investor disarankan lebih selektif memilih saham yang likuid, memiliki fundamental kuat, valuasi menarik, serta minim risiko outflow lanjutan.
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.700, dengan momentum rebalancing MSCI terjadi menjelang libur panjang. "Pengumuman rebalancing indeks MSCI Mei 2026 ternyata lebih banyak saham yang dikeluarkan dari perkiraan pasar sebelumnya," tulis Phintraco dalam keterangan tertulis.