AMBON — Produk kerajinan ramah lingkungan Mahina Laha kini membidik pasar mancanegara melalui teknik ecoprint dan ecobrick yang inovatif. Raja Negeri Laha, M. Yasir Mewar, mengonfirmasi komunikasi intensif dengan pihak Belanda yang terpikat keunikan motif kain berbahan alami tersebut. Inovasi ini mengoptimalkan vegetasi lokal sebagai bahan utama pembuatan pola.
Masyarakat setempat mulai mengasah kreativitas dengan mengolah limbah dan bahan alam menjadi komoditas bernilai jual tinggi. Selain mengejar keuntungan ekonomi, gerakan ini bertujuan menjaga kelestarian lingkungan di wilayah Negeri Laha. Transformasi bahan mentah menjadi karya seni ini menjadi bukti nyata kekuatan ekonomi hijau di tingkat desa.
Proses produksi Mahina Laha mengandalkan teknik penempelan daun alami pada media kain. Cairan khusus membantu pigmen warna dan struktur tulang daun berpindah secara presisi, menciptakan pola artistik yang mustahil ditiru mesin pabrikan. Keunikan setiap helai kain terletak pada detail organik yang dihasilkan dari alam secara langsung.
“Daun apa saja bisa dipakai, nanti dia membentuk motif sendiri di kain,” ujar Mewar saat memberikan keterangan di kantor Negeri Laha, Kamis (7/5/2026).
Selain ecoprint, komunitas pengrajin setempat mengembangkan ecobrick untuk mengelola sampah plastik. Kombinasi kedua teknik ini memperkuat posisi Mahina Laha sebagai produk unggulan yang selaras dengan tren pasar global ramah lingkungan (eco-friendly). Inovasi ganda ini menjadi solusi konkret atas permasalahan sampah sekaligus peluang bisnis.
Ekspansi pasar Mahina Laha kini melampaui batas Kota Ambon. Melalui partisipasi aktif dalam pameran UMKM, produk ini mulai mengamankan posisi di sejumlah kota besar di Pulau Jawa. Strategi jemput bola terbukti efektif menarik perhatian distributor nasional dan pembeli potensial dari berbagai daerah.
Mewar menegaskan daya saing produk lokal Maluku ini siap bersaing dengan kerajinan serupa dari daerah lain. “Karena bukan hanya di Ambon, di Jawa juga sudah ditawarkan. Bahkan dari Belanda sudah ada yang komunikasi terkait produk ini,” jelasnya.
Pemerintah Negeri Laha kini fokus memperkuat kapasitas produksi di tingkat lokal. Langkah ini diambil guna memastikan permintaan dari luar negeri maupun pasar domestik terpenuhi dengan standar kualitas yang konsisten. Penguatan infrastruktur produksi menjadi prioritas utama untuk mendukung keberlanjutan bisnis.
Inisiatif ini menjadi motor penggerak ekonomi baru, khususnya bagi kaum ibu di Negeri Laha. Keterlibatan aktif masyarakat dalam proses produksi mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pemanfaatan potensi vegetasi di sekitar hunian. Program ini mengubah peran perempuan menjadi pilar utama dalam kemandirian ekonomi desa.
Raja Negeri Laha berharap kreativitas ini terus berkembang hingga Mahina Laha menjadi ikon produk unggulan daerah. Melalui sinergi masyarakat luas, produk ini diproyeksikan mengangkat nama Maluku sebagai produsen kerajinan bernilai jual tinggi di kancah internasional. Visi ini selaras dengan upaya menjadikan Maluku sebagai pusat inovasi kerajinan berbasis alam.