AMBON — Unpatti menggandeng diaspora dan sejumlah mitra teknologi untuk membangun ekosistem arsip digital warisan budaya Maluku. Gagasan utama yang dibahas adalah pembentukan Sovereign Digital Archive, arsip digital berdaulat yang diharapkan menjadi sarana mengintegrasikan data warisan budaya secara terpercaya dan berkelanjutan.
Kuliah umum menghadirkan Dennis Tedja, Founder Opus Solutions Limited sekaligus Global Ambassador for Indonesia di Hong Kong Cyberport, sebagai narasumber. Diskusi dipandu Prof. Wilma Latuny, Ph.D., penerima Hibah Diaspora Berdampak Diktisaintek Batch I.
Wakil Rektor Bidang Akademik Unpatti, Prof. Dr. Dominggus Malle, S.Pt., M.Sc., menilai digitalisasi warisan budaya bukan sekadar persoalan teknologi. Menurutnya, musik Maluku menyimpan sejarah, nilai, bahasa, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dokumentasi warisan budaya tersebut masih tersebar sehingga perlu dihimpun dan dikelola secara terstruktur. Malle menegaskan Unpatti berkomitmen memastikan masyarakat dan komunitas budaya Maluku tetap menjadi subjek sekaligus pemilik pengetahuan dalam pengembangan ekosistem digital itu.
"AI dapat membantu kita mengorganisasi, mengolah, menemukan kembali, dan menghubungkan berbagai data budaya. Namun, teknologi tersebut harus tetap berpijak pada konteks budaya, etika, hak komunitas, kepemilikan pengetahuan, serta tata kelola data yang bertanggung jawab," jelas Malle.
Dubes Djauhari Oratmangun menyoroti hubungan Indonesia dan Tiongkok yang semakin erat sebagai peluang kerja sama di bidang digitalisasi dan kecerdasan artifisial. Menurutnya, teknologi itu bisa dipakai memperkenalkan karya seni Maluku ke tingkat global.
"Kalau musik dari Ambon bisa mendunia dengan memanfaatkan teknologi AI, maka akan ada economic gain dari situ. Ini bisa menjadi peluang yang luar biasa untuk Ambon dan Maluku," ujar Djauhari.
Perkembangan media sosial dan teknologi digital dinilainya memberi ruang lebih luas bagi seniman memperkenalkan karya. Djauhari mengingatkan pemanfaatan teknologi tetap harus memperhatikan hak cipta dan kepemilikan karya.
"Gunakan kecerdasan mesin untuk proses, pertahankan rasa manusia untuk kreativitas. Manfaatkan rasa berseni dan rasio kita untuk menghasilkan karya berkelas dunia dengan memanfaatkan teknologi informasi," katanya.
Kuliah umum ini menjadi langkah awal rangkaian program jangka panjang Unpatti. Tahapannya mencakup lokakarya, kunjungan lapangan, diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD), penyusunan peta jalan (roadmap), penetapan cetak biru (blueprint), hingga pembentukan kelompok kerja (working group).
Program Diaspora Berdampak Unpatti diharapkan memperkuat peran strategis diaspora Maluku sebagai penghubung pengetahuan, pengalaman, dan jejaring global. Upaya ini mendukung pengembangan Ambon sebagai City of Music.
"Mari kita menjadikan teknologi bukan sebagai ancaman bagi tradisi, tetapi sebagai alat untuk memperpanjang usia tradisi. Kita harus memastikan generasi muda Maluku di masa depan dapat menemukan cerita mereka sendiri, suara leluhur mereka sendiri, dan identitas Maluku mereka sendiri," tandas Malle.
Melalui kegiatan ini, Unpatti mendorong sinergi antara perguruan tinggi, diaspora, akademisi, komunitas budaya, dan mitra teknologi untuk mengembangkan ekosistem digital warisan budaya Maluku yang berdaulat dan berkelanjutan.