JAKARTA — Bupati Maluku Tenggara M. Thaher Hanubun menemui Direktur Budidaya Rumput Laut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP Nono Hartanto untuk membahas percepatan pembudidayaan rumput laut di wilayahnya. Pertemuan berlangsung siang hari di Kantor Kementerian KKP, Jakarta Pusat.
Produksi rumput laut Maluku Tenggara pada 2024 tercatat 46.788 ton. Angka itu digerakkan 2.398 pembudidaya rakyat yang tersebar di wilayah pesisir Kei Kecil dan Kei Besar.
Meski volume produksi besar, harga di tingkat petani bergerak fluktuatif antara Rp13.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Ketidakpastian itu membuat pendapatan pembudidaya belum stabil.
Thaher memaparkan tiga persoalan utama yang dihadapi pembudidaya rumput laut di Kepulauan Kei. Sarana budidaya dan bibit unggul masih terbatas, rantai pasok dan rantai dingin belum terbangun, serta akses pasar masih bergantung pada pengepul luar daerah.
"Potensi kami besar, pemanfaatannya masih rendah. Ini pesan yang saya sampaikan ke Wamendes kemarin, dan hari ini saya tegaskan lagi di KKP. Laut Kei adalah modal utama desa pesisir," ujar Thaher di hadapan Nono Hartanto.
Karena rantai dingin belum ada, petani menjual hasil panen dalam bentuk kering mentah. Tidak ada proses pengolahan yang menambah nilai di tingkat desa.
Dalam audiensi tersebut, Bupati mengajukan empat usulan yang ia harap masuk dalam program KKP. Berikut rinciannya:
Thaher menyebut KDMP di wilayahnya sudah terbentuk di 190 desa, dengan 25 gerai yang beroperasi. Koperasi itu ia dorong menjadi simpul pengolahan dan pemasaran rumput laut.
"KDMP kami sudah 100 persen terbentuk, 25 gerai sudah ada. KDMP inilah yang akan kami dorong menjadi simpul pengolahan dan pemasaran rumput laut. Jadi nilai tambah tinggal di desa," kata Thaher.
Nono Hartanto menilai Maluku Tenggara punya keunggulan komparatif dibanding daerah lain. Perairan di sana terlindung, arusnya cocok untuk Eucheuma cottonii dan Gracilaria, dan pembudidayanya sudah berpengalaman turun-temurun.
KKP menyatakan siap mendukung melalui program pengembangan kawasan budidaya, bantuan sarana prasarana, pelatihan pembudidaya, dan fasilitasi kemitraan dengan pembeli hasil panen atau off-taker.
"Maluku Tenggara potensial menjadi sentra rumput laut di Maluku bahkan kawasan timur. Kami akan sinkronkan dengan program nasional budidaya rumput laut berkelanjutan," ujar Nono.
Audiensi di Mina Bahari IV menjadi rangkaian kedua lawatan Bupati Thaher ke Jakarta. Sehari sebelumnya, 28 September 2026, ia bertemu Wakil Menteri Desa PDT Ahmad Riza Patria untuk membahas ekonomi 190 desa.
Dari Kemendes, Maluku Tenggara menggarap dukungan kelembagaan dan gerai KDMP. Dari KKP, yang dibidik adalah pembudidayaan dan hilirisasi rumput laut.
Thaher menyebut dua pintu dukungan itu jadi modal bagi desa pesisir Maluku Tenggara untuk berdaya dan mandiri. Kawasan budidaya seluas 8.862 hektare masih menyisakan ruang garap besar, dengan 1.380 hektare yang baru dimanfaatkan.