MALUKU — Cole Sprouse kembali ke layar lebar lewat "Vintage Violence", film terbaru sutradara Eugene Kotlyarenko yang berlatar di Tokyo. Film ini menampilkan Sprouse sebagai selebritas media sosial bernama Carter yang terlibat kekacauan gangster demi sekantong denim vintage. "Vintage Violence" disebut-sebut sebagai salah satu rilisan paling maximalist dari Kotlyarenko setelah "Spree" pada 2020.
Cole Sprouse memerankan Carter, selebritas media sosial menyebalkan yang diperkenalkan sedang live streaming sebelum cerita bergulir menjadi pertempuran antara gangster melawan semua pihak. Eugene Kotlyarenko, sutradara di balik "Spree" (2020), kembali mengangkat tema live streaming dan budaya internet dalam "Vintage Violence".
Carter terbang ke Jepang setelah diundang Izumi Adachi, karakter yang diperankan Kiko Mizuhara. Izumi menjanjikannya keuntungan besar dari penjualan denim vintage yang ditemukan Carter saat live streaming.
Denim tersebut menjadi MacGuffin berukuran tas duffel yang membuat para tokoh terus bergerak. Menariknya, denim dalam film ini mendapat dukungan resmi dari Levi's dan Levi's Japan, seperti tertulis di kredit penutup.
Sinematografer Sean Price Williams menggarap film ini dengan gaya tilt-and-zoom yang cair, memperkuat energi gelisah yang jadi ciri khas Kotlyarenko.
Judul "Vintage Violence" diambil dari album John Cale. Menurut catatan Variety, judul itu dinilai akurat menggambarkan adegan pertumpahan darah oleh anggota yakuza yang eksentrik.
Energi film ini disebut berada di sekitar film Takashi Miike era pertengahan 2000-an, namun dengan tekstur yang sangat kontemporer. Kotlyarenko membangun adegan-adegan berbasis teknologi yang belum ada 20 tahun lalu.
Salah satu adegan terbaik melibatkan pencurian ponsel Carter. Ia mengejar pencuri sambil mengukur jarak lewat suara earbuds Bluetooth yang semakin jernih saat ia mendekat.
Kotlyarenko dikenal sebagai sinefil yang rakus referensi. "Vintage Violence" meminjam elemen dari "North by Northwest" hingga "Wanderlust", di samping banyak filmmaker Jepang.
Elemen semakin ganjil seiring berjalannya cerita, termasuk hotel yang terasa seperti buatan tim televisi dalam "demonlover" garapan Olivier Assayas. Ada pula gangster yang jari putusnya digantikan botol semprot berisi kabut beracun.
Pendekatan maximalist seperti ini berisiko cepat membosankan. Variety menilai "Vintage Violence" setia pada kekacauan para pendahulunya, tapi efek kumulatifnya lebih melelahkan ketimbang memberi energi.
Film ini menyadari potensi kritik soal sutradara asing yang mengklaim memahami interioritas karakter Jepang. Carter berkali-kali dihina sebagai gaijin atau orang luar.
Sprouse dinilai memadai sebagai pemeran utama. Ia beradaptasi dengan kekacauan baru sambil perlahan mencapai rehabilitasi moral, yang diganjar dengan arc romantis.
Meski berambisi jadi film yang firmly of the Now dan menawarkan kekasaran ala midnight movie, bagian-bagian penyusun "Vintage Violence" dinilai cukup klise.
"Vintage Violence" menambah deretan film Kotlyarenko yang mengangkat kegilaan budaya di era media sosial, memperkuat posisinya sebagai salah satu sutradara independen paling provokatif saat ini.