AMBON — Perayaan 451 tahun Kota Ambon bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan refleksi atas perjalanan panjang sebuah kota yang dibangun dari keberagaman. Titik awalnya adalah 7 September 1575, ketika Portugis membangun Benteng Kota Laha sebagai penanda lahirnya sebuah tata kota modern saat itu. Tiga setengah abad kemudian, tepatnya 7 September 1921 di era kolonial Belanda, warga pribumi Ambon memperoleh hak politik dalam pemerintahan.
Dua penanda sejarah itu, budaya dan politik, disebut saling berkelindan membentuk wajah Ambon hingga kini. Sejarawan Gerrith Knaap dalam telaah arsip demografi abad ke-19 bahkan menabalkan Ambon sebagai kota migran karena komposisi penduduknya yang berasal dari berbagai bangsa dan suku.
Era Indonesia merdeka membawa kebijakan sentralistik hingga akhirnya otonomi daerah tiba pada 1999. Riak-riak dinamika politik dan sosial budaya itu, menurut penulis Rudy Rahabeat, turut membentuk karakter kota yang kini menjadi ibu kota Provinsi Maluku.
Warisan sejarah itulah yang coba dirangkum Walikota Ambon Bodewin Wattimena melalui tagline "Beta Par Ambon, Ambon Par Samua". Frasa itu bukan slogan kosong, melainkan ringkasan jati diri Ambon sebagai kota multikultur. "Jadi bukan ale par ale, beta par beta. Tapi ale rasa beta rasa. Katong samua basudara," tulis Rahabeat dalam opininya.
Memasuki 2026, Ambon berada di posisi strategis namun menghadapi kerentanan struktural. Wilayah kota tidak bertambah sementara jumlah penduduk terus meningkat, memicu kepadatan di lahan sempit. Sektor energi andalan seperti minyak dan gas tidak dimiliki, hasil laut pun terbatas.
Perekonomian Ambon sangat bertumpu pada sektor jasa dan suntikan dana dari luar, utamanya Jakarta. Kondisi ini menuntut strategi jitu agar kota mampu mandiri secara ekonomi dan berkelanjutan—sebuah kata kunci yang kerap ditegaskan Wattimena dalam visinya.
Tonggak sejarah kelam seperti tragedi 1999 memberi pelajaran berharga tentang pentingnya merawat hidup bersama dalam perbedaan. Pranata budaya inklusif seperti Pela-Gandong terus bertransformasi, termasuk dalam bentuk pela pendidikan yang melibatkan sekolah dan universitas.
Rahabeat mengingatkan bahwa toleransi tidak boleh berhenti sebagai slogan. Nilai penghargaan kepada kemanusiaan, saling peduli, dan berbagi adalah etos budaya Ambon yang harus dipertahankan dari generasi ke generasi. Gaya hidup hedonis dan materialis disebut perlu diredam, sementara budaya hidup sederhana dan belarasa perlu ditumbuhkan.
"Beta Par Ambon, Ambon Par Samua adalah sebuah piagam etik. Ia bukan sekadar slogan politik, melainkan komitmen yang lahir dari hati nurani," tulisnya. Setiap kali tagline itu digemakan, ia mesti menyala di sanubari dan mewujud dalam tindakan kepedulian nyata antarwarga.
Semangat itu lahir dari rasa cinta dan rasa memiliki terhadap Ambon sebagai kota bersama. "Ambon adalah kita. Mari bersama jaga dan rawat kota Ambon, ibu negeri tanah Maluku," pungkas Rahabeat dalam tulisannya yang dimuat Terasmaluku.com.